Anak Narsis Lebih Berprestasi Secara Akademik! Serius?

Kompas.com - 11/09/2018, 17:02 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Setiap remaja punya kepribadian berbeda-beda. Ada yang tertutup dan mudah bergaul, ada yang kalem dan serius atau suka membanyol, serta ada juga yang narsis. Namun perlu dipahami bahwa remaja "narsis" di sini bukanlah remaja yang suka hobi selfie atau punya percaya diri tinggi.

Narsis yang dimaksud di sini adalah satu tanda gangguan kepribadian yang disebut narsisme atau narcissistic personality disorder (NPD). 

Ganguan kepribadian narsisme cukup langka. Buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) mendata kurang lebih sekitar 1% penduduk dunia terdiagnosis dengan narsisme. Dari total tersebut, dilansir Medical News Today, hanya 7,7% laki-laki dan 4,8% perempuan di dunia menunjukkan gangguan kepribadian narsistik.

1. Ciri remaja narsis

Narsis tidak sama dengan percaya diri. Remaja dengan kepribadian NPD akan menunjukkan perilaku haus pujian, tidak mau mengalah, dan selalu menuntut untuk dikagumi oleh orang lain.

Orang narsis juga terobsesi pada diri sendiri dan merasa sangat yakin bahwa ia harus juga berhak mendapatkan perlakuan khusus dari orang di sekitarnya. Kerapkali, mereka memalsukan empati demi mendapat perhatian dari orang di sekitarnya.

Baca juga: Anak-anak Seharusnya Tak Aktif di Media Sosial

Orang yang memiliki NPD seringkali tidak bisa menerima kritik, bahkan kritik membangun sekalipun. Mereka menganggap kritik sebagai sebuah serangan atau hinaan, bahkan sampai meledak marah ketika sifat atau hasil kerja dikritik. Mereka juga cenderung gampang cemburu dan iri ketika melihat orang lain lebih sukses. 

2. Narsis tidak selalu buruk

Kostas Papageorgiou dosen psikopatologi Queen’s University Belfast di Inggris menyampaikan meski narsisme menjadi pertanda gangguan pribadi, bukan berarti remaja narsis selalu pasti memiliki gangguan kepribadian.

“Kita selalu mengkotak-kotakkan emosi atau sifat kepribadian sebagai sesuatu yang hitam atau putih, tetapi karakter adalah produk evolusi. Tidak ada kepribadian yang benar-benar buruk atau sangat baik. Kepribadian seseorang akan beradaptasi sesuai dengan lingkungannya,” tandas Papageorgiou.

Narsisme baru bisa dikatakan sebagai gangguan kepribadian NPD ketika ciri-cirinya muncul konsisten setiap waktu dan situasi, juga dalam jangka waktu panjang. Gangguan kepribadian hanya bisa didiagnosis resmi oleh dokter dan spesialis kesehatan jiwa.

3. Hubungan narsis dan akademik 

Narsis ternyata berpengaruh pada peningkatan prestasi remaja di sekolah. Penelitian ini disampaikan Kostas Papageorgiou dalam jurnal Personality and Individual Differences.

Kostas meneliti 340 siswa remaja dari tiga sekolah menengah berbeda di Milan, Italia. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok siswa menunjukkan ciri narsis dan mereka yang tidak. Setelahnya, mereka diminta untuk mengerjakan serangkaian tes akademis.

Remaja yang cenderung menunjukkan narsisme tinggi memiliki mental lebih tangguh daripada teman sebayanya yang tidak narsis. Karakte mental tangguh inilah yang membantu mengasah performa akademis menjadi lebih baik, kata peneliti.

4. Unggul dalam ketangguhan mental

Kostas menjelaskan, “Percaya diri dengan kemampuan sendiri adalah salah satu tanda utama narsisisme dan juga merupakan inti dari ketangguhan mental.” Nyatanya, narsisme memang sering kali didasari penilaian diri yang sangat rapuh dan dipengaruhi oleh rasa takut gagal atau takut menunjukkan kelemahan diri.

Itu kenapa orang yang narsis akan berusaha kuat untuk terus mengungguli yang lain. Ketangguhan mental ini, lanjut Kostas membuat mereka lebih sigap untuk menerima tantangan dan melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan kualitas pribadinya.

Tanpa disadari, remaja narsis terbantu dengan rasa harga diri yang tinggi sehingga mendorong berbuat melebihi ekspektasi demi kebanggan mereka sendiri. Inilah yang membuat remaja narsis bisa lebih sukses dalam konteks tertentu, seperti dalam hal akademis.




Close Ads X