Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Media Sosial Membuat Kita Semakin Dungu?

Kompas.com - 22/10/2018, 14:30 WIB
Ilustrasi media sosial TwilightShowIlustrasi media sosial

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan lebih dari 500 ribu tweet dari Twitter. Tepatnya 563.312 tweet. Data sebanyak itu kemudian dianalisis. Isu yang ada dalam ratusan ribu tweet itu dipilah-pilah.

Salah satunya adalah isu pernikahan sesama jenis. Pada isu ini, tweet yang mengandung kata-kata emosional seperti menyalahkan orang lain (blame) dan ujaran kebencian (hate) jauh lebih banyak di re-tweet dibandingkan kata-kata netral mengenai isu ini.

Hal sama juga berlaku pada isu-isu lain, termasuk politik. Misal, dalam konteks pemilu Amerika. Tweet agak datar seperti "Saya pendukung partai republik", mendapatkan 7 like. Adapun tweet seperti "Hidup partai republik! partai demokrat anti Amerika!!!" mendapatkan 370.000 like. Artinya, 7 berbanding 370.000.

Sebenarnya konten sama, hanya terakhir memodifikasi beberapa kata menjadi lebih ekstrem, dan perbanyak tanda seru.

"Kami" versus "Kalian" 

Bagaimana penjelasannya? Salah satu peneliti, associate profesor psikologi Jay J. Van Bavel mengatakan bahwa hal ini berkaitan (lagi) dengan konsep psikologi sosial in-group (kami) vs out-group (kalian).

Kata-kata makin kasar dapat makin menegaskan seseorang anggota kelompok tertentu, atau pro dengan isu tertentu (in-group). Umpatan dan makian ke kelompok lain juga menegaskan bahwa orang lain itu bukan bagian dari kelompok (out-group).

Seperti gerombolan suporter persib (in-group) di stadion Gelora Bandung Lautan Api beberapa waktu yang lalu, ketika mengetahui Haringga Sirla adalah pendukung persija (out-group) tanpa pikir panjang, tanpa perlu tahu latar belakang, mereka langsung keroyok dan habisi. Sesimpel itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Situasi chaos semacam itu dengan mudah bisa terjadi, apalagi semua media sosial memberikan bahan bakarnya.

Ya, bahan bakar ini makin meruncingkan opini, makin membuat masyarakat mudah sekali diadu domba. Mudah dicocok hidungnya untuk percaya bahwa capres idola selalu benar bagi masing-masing pendukungnya, dan capres lawan selalu salah. Kenapa bisa begitu?

Media sosial "mengikat"

Media sosial dirancang untuk "mengikat", untuk mencegah pengguna pindah ke aplikasi lain. Kalau bisa selama 24 jam. Karena semakin banyak diklik, semakin banyak pula iklan yang bisa didapat, semakin banyak uang yang mengalir ke Facebook, Instagram atau Twitter. Bagaimana caranya?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.