"Hanya di Indonesia 'Gadget' Dianggap Jauhkan Anak Muda dari Buku" - Kompas.com

"Hanya di Indonesia 'Gadget' Dianggap Jauhkan Anak Muda dari Buku"

Kompas.com - 06/11/2018, 18:59 WIB
Acara Festival Literasi di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah pada Selasa (6/11/2018).KOMPAS.com/LUTFIA AYU AZANELLA Acara Festival Literasi di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah pada Selasa (6/11/2018).

SURAKARTA, KOMPAS.com – Kehadiran teknologi komunikasi, khususnya telepon pintar dan internet kerap menjadi "kambing hitam" atas rendahnya minat kalangan muda terhadap buku.

Konvergensi digital banyak mengubah informasi yang semula tertulis dalam bentuk lembaran kertas kini tertera di layar gawai.

Namun, penulis M Aan Mansyur tidak sependapat dengan hal itu. Pria asal Bone ini menganggap, terdapat permasalahan yang lebih kompleks mengapa seseorang tidak lagi menggilai pojok-pojok perpustakaan atau berdiam menenggelamkan diri pada buku-buku bacaan.

Sebagaimana Aan sampaikan dalam diskusi Festival Literasi di Solo, Selasa (6/11/2018), sepinya perpustakaan atau tidak tersentuhnya buku bacaan bukan karena rendahnya minat membaca atau tidak punya waktu untuk membaca.

"Saya tidak mau mengatakan orang tidak mengunjungi perpustakaan karena malas baca buku. Salah satu persoalannya adalah kemacetan, misalnya. Susah sekali kalau membayangkan semua orang harus mengunjugi perpustakaan setiap hari, ke kantor mereka saja lama," ujar Aan.

Baca juga: Kepala Badan Bahasa Sebut Literasi Cara Ampuh Tangkal Hoaks

Sama seperti alasan malas membaca, kehadiran gawai atau gadget juga tidak bisa disalahkan sebagai penyebab seseorang meninggalkan lembar-lembar bacaan.

Aan mencontohkan pengalamannya saat berada di Polandia beberapa waktu lalu. Di sebuah taman, ia mendapati bangku-bangku di sana bertuliskan nama-nama sastrawan beserta dengan sebuah barcode di sampingnya.

“Saya penasaran, saya pakai scanner di ponsel saya. Apa yang kemudian muncul di ponsel saya adalah sastrawan itu membacakan karyanya. Saya diperkenalkan kepada buku-bukunya, dan di perpustakaan mana saya bisa membaca karya itu," kata Aan.

Ia melanjutkan, setiap sore anak-anak muda memegang gadget-nya dan dapat menemukan akses bacaan yang tersedia di sandaran bangku-bangku taman.

Data yang tersedia melalui genggaman ponsel itulah yang menuntun mereka datang ke perpustakaan dan toko-toko buku untuk membaca sebuah karya.

"Hanya di Indonesia ini kita menganggap gadget menjauhkan anak muda dari buku. Di tempat itu justru gadget membuat anak muda datang ke toko buku, perpustakaan, membongkar arsip-arsip, dan seterusnya," ucap Aan.

 


Terkini Lainnya


Close Ads X