Ambil S-1 di Belanda? Kuliah di Minggu Pertama Langsung "Nge-gas"!

Kompas.com - 21/11/2018, 08:40 WIB
Amelia Kezia dan Albert Pratomo, mahasiswi tahun keempat program double degre di ICT Sofwatre Enginering Fontys University, Eindhoven, Belanda, Sabtu (17/11/2018). KOMPAS.COM/M LATIEFAmelia Kezia dan Albert Pratomo, mahasiswi tahun keempat program double degre di ICT Sofwatre Enginering Fontys University, Eindhoven, Belanda, Sabtu (17/11/2018).
Penulis Latief
|
Editor Latief

EINDHOVEN, KOMPAS.com - Nilai 8,5 Kuliah untuk gelar S-1 di Indonesia sudah tergolong nilai A. Di Belanda, baru di angka 9 nilai mahasiswa disebut nilai A. Artinya, standar nilai di negara ini lebih tinggi, jangan main-main!  

Soal standar nilai kuliah yang tinggi memang harus jadi perhatian khusus calon mahasiswa Indonesia yang akan menempuh studi S-1 di Universitas Fontys, Eindhoven, Belanda. Selain Fontys, kampus terkenal di Eindhoven adalah University of Technology (TUe).

Calon mahasiswa Indonesia yang ingin menuntut ilmu di Belanda harus menjadikan standar ini sebagai perhatian khususnya selama studi. 

"Kalau di Indonesia hasil ujian tengah semester atau UTS tidak lulus masih bisa diperbaiki. Di sini kalau UTS tidak lulus, ya tidak lulus. Nilai minimal 5,5 baru dianggap lulus. Itu dianggap nilai C dan di bawah itu enggak lulus," ucap Amelia Kezia, mahasiswi tahun keempat program double degre di ICT Sofwatre Enginering Fontys University, Sabtu (17/11/2018).

Awalnya, mahasiswi double degree dari Universitas Kristen Petra Surabaya ini mengaku agak bingung terkait soal esai yang menggunakan bahasa Inggris. Amelia sempat gagap dengan semua pengantar berbahasa Inggris.

"Kalau kampus ini kan memang minta syarat bahasa Inggris mahasiswa itu dengan Toefl iBT harus 80. Kalau yang mendapat beasiswa itu harus 90. Jadi, bahasa Inggris harus sangat kuat untuk kuliah di sini," tambah Amelia.

Albert Pratomo, rekan Amelia yang juga duduk di bangku kuliah sama, menyatakan sependapat dengan hal itu. Menurut dia, semua materi pada kuliah teknik komputer (Engineering Computations) bahasa Inggris sehingga sejak awal kuliah di Petra pun sudah terbiasa menghadapinya. 

"Hanya, bedanya itu pada bahasa pemrogramannya, seperti untuk coding. Benar-benar harus belajar lagi secara ketat," papar Albert.

Para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di ICT Sofwatre Enginering Fontys University, Sabtu (17/11/2018). KOMPAS.COM/M LATIEF Para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di ICT Sofwatre Enginering Fontys University, Sabtu (17/11/2018).
Menurut dia, kuliah di kampus ini memang tidak bisa santai. Albert menjelaskan, secara academik kampus sudah "ngegas" alias mempercepat proses belajar sejak di minggu pertama kuliah.

"Minggu pertama langsung masuk bab satu, dan langsung ngegas. Sistem di sini kan kuartal atau tiga bulan harus selesai, jadi dibuat harus cepat. Tiga bulan selesa, lalu ganti mata kuliah lagi, jadi padat banget," ucap Albert.

Beruntung, di kampus ini ada lebih dari 10 anak indonesia yang terdiri dari beberapa angkatan kuliah. Dari para teman atau kakak kelas itulah Albert banyak berbagi informasi perkuliahan.

Albert merasa di kampus ini dirinya dituntut untuk self study alias belajar secara mandiri dengan cara banyak berdiskusi, membaca makalah, dan praktik. Tak heran, semua dosen yang dihadapinya lebih mengajak interaktif sehingga sangat berbeda dengan di Indonesia

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X