Jadi Salah Satu Fokus Pembangunan, Apa Kabar Pendidikan Tinggi di Indonesia? - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Avian

Jadi Salah Satu Fokus Pembangunan, Apa Kabar Pendidikan Tinggi di Indonesia?

Kompas.com - 03/12/2018, 17:50 WIB
Ilustrasi mahasiswa mengerjakan tugas dengan laptopthinkstock/zhudifeng Ilustrasi mahasiswa mengerjakan tugas dengan laptop

KOMPAS.com – Empat tahun sudah Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin Indonesia. Selama rentang waktu tersebut, 3,5 tahun digunakan untuk membangun infrastruktur.

Kini langkah Presiden Jokowi mulai bergeser pada pekerjaan besar kedua, yaitu investasi di bidang sumber daya manusia (SDM). Baginya, pembangunan SDM merupakan langkah besar kedua pemerintahannya setelah pembangunan infrastruktur.

“Karena peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan sekali dalam kita berkompetisi, bersaing dengan negara-negara lain,” ucap Jokowi dikutip dari Kompas.com, Kamis (15/3/2018).

Ada tiga hal yang menjadi fokus Jokowi dalam upaya pembangunan sumber daya manusia. Salah satunya adalah peningkatan akses dan kualitas pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.

Sebagai salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia, kondisi pendidikan tinggi pun tidak luput dari perhatian.

Berdasarkan data dari Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017, Indonesia memiliki 3.276 lembaga perguruan tinggi yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia per tahun ajaran 2016/2017. Jumlah tersebut sudah mencakup universitas, institut, akademi, sekolah tinggi, hingga politeknik.

Dari jumlah itu, total program studi (prodi) yang dimiliki sebanyak 20.516 prodi yang dikategorikan ke dalam beberapa bidang ilmu, yaitu teknik, pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, pertanian, MIPA, humaniora, agama, dan seni.

Ilmu teknik menjadi bidang ilmu dengan prodi terbanyak di Indonesia, yaitu 4.634 prodi. Sedangkan, ditempat terakhir ada bidang ilmu seni yang hanya memiliki 359 prodi.

Sementara, jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa aktif sebanyak 6.924.511 orang. Menariknya, jumlah ini 21 persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk Singapura yang berjumlah 5.747.886 jiwa pada 2017. 

Tantangan

Walaupun telah memiliki jumlah mahasiswa dan lembaga perguruan tinggi yang cukup banyak, angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia masih rendah.

Dilansir dari Kompas.id, Rabu (5/9/2018), angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia pada 2018 baru mencapai 32,5 persen. Angka itu masih di bawah negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia (38 persen) dan Korea Selatan (92 persen).

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Indonesia menempati peringkat ke-36 dari 170 negara. Sebab, Indonesia masih tertinggal dalam hal pendidikan tinggi dan pelatihan keterampilan kerja.

Tidak hanya angka partisipasi rendah, jumlah mahasiswa putus sekolah atau drop out dari perguruan tinggi di Indonesia juga cukup banyak. Berdasarkan data Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017, dari total 6.924.511 mahasiswa terdaftar, sebanyak 195.176 mahasiswa drop  out dari kampusnya.

Angka drop out tertinggi terjadi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan persentase sebesar 96 persen. Sedangkan, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memiliki angka drop out sebesar 4 persen.

Hal tersebut tentunya sangat disayangkan. Padahal, menurut artikel yang sama, pendidikan tinggi dapat memberikan seseorang kemampuan berpikir kritis, terstruktur, dan keterampilan lain yang dibutuhkan di dunia kerja dan masyarakat.

Beasiswa Juara memberikan biaya pendidikan selama dua semester dengan total Rp 10 juta kepada 40 mahasiswa pemenang beasiswa yang berasal dari berbagai universitas di IndonesiaKOMPAS.com/ANISSA DEA WIDIARINI Beasiswa Juara memberikan biaya pendidikan selama dua semester dengan total Rp 10 juta kepada 40 mahasiswa pemenang beasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia

Untuk mencegah semakin tingginya angka drop out, Avian Brands bekerja sama dengan harian Kompas memberikan bantuan dana pendidikan berupa beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi di seluruh Indonesia dengan nama Beasiswa Juara.

Beasiswa Juara merupakan salah satu rangkaian program corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki oleh Avian Brands. Menurut Deputy Marketing Director Avian Brands Novi Christiana, bidang pendidikan dipilih karena pendidikan merupakan dasar untuk kemajuan Indonesia di masa depan.

Pada angkatan pertama, 40 mahasiswa Strata Satu (S1) dari universitas negeri dan swasta terpilih menjadi pemenang beasiswa sebesar Rp 10 juta untuk dua semester. Selain itu, mahasiswa juga dibekali dengan rangkaian workshop untuk mengembangkan potensi mahasiswa, terutama dalam hal soft skill.

Sebagai informasi, ke depannya akan lebih banyak lagi beasiswa yang diberikan melalui program ini. Tak hanya untuk mahasiswa aktif, tapi juga beasiswa bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ingin melanjutkan kuliah.

“Target kami total memberikan 400 beasiswa bagi mahasiswa dan pelajar. Nah saat ini di angkatan pertama kami sudah menyalurkan 40 beasiswa untuk mahasiswa. Kami berharap lewat Beasiswa Juara ini semakin banyak mahasiswa dan pelajar yang bisa mendapatkan beasiswa,” tutur Novi kepada Kompas.com di acara Inagurasi Beasiswa Juara di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (27/10/2018).

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Tri Agung Kristanto. Dia berharap program beasiswa ini dapat membantu mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

“Tentu pemberian beasiswa ini tidak langsung menyelesaikan seluruh masalah pembiayaan perkuliahan. Saya kira kontribusi dari Avian Brands yang didukung dengan harian Kompas merupakan sebuah langkah yang baik bagi mahasiswa untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: