Kompetisi Kian Sengit, Ini yang Perlu Dilakukan Pendidikan Tinggi

Kompas.com - 11/12/2018, 20:11 WIB
Prof. Ben Shenglin selaku Professor and Dean, Academy of Internet Finance and International Business School, Zhejiang University  memberikan pidato mengenai economic singularity pada wisuda Universitas Prasetiya Mulya yang bertema ?Powering Indonesia?s Ascent to the Singularity Economy? di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (11/12) Dok. PrasmulProf. Ben Shenglin selaku Professor and Dean, Academy of Internet Finance and International Business School, Zhejiang University memberikan pidato mengenai economic singularity pada wisuda Universitas Prasetiya Mulya yang bertema ?Powering Indonesia?s Ascent to the Singularity Economy? di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (11/12)

KOMPAS.com - Teknologi kecerdasan buatan (artificial inteligence) telah mampu menggantikan peran manusia di beberapa sektor pekerjaan, bahkan dengan hasil yang lebih akurat dan efisien.

Perkembangan tersebut cepat atau lambat akan mendorong terciptanya babak baru, yaitu economic singularity, dimana penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang, berdampingan dengan kecerdasan manusia.

Tema economic singularity ini mengemuka dalam diskusi media bersama Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) setelah acara wisuda di Jakarta Convention Center, Selasa (11/12/2018) dengan tema “Powering Indonesia’s Ascent to the Singularity Economy”.

Tantangan "Singularity"

Prof. Ben Shenglin, Professor and Dean, Academy of Internet Finance and InternationalBusiness School, Zhejiang University yang menjadi pembicara utama pada acara wisuda kali ini menjelaskan, “Singularity” telah diperluas dari matematika ke ranah kecerdasan visual melalui buku Raymond Kurzweii berjudul “The Singularity Is Near”.

Baca juga: JK: Kita Baru Bicara Revolusi Industri 4.0, Jepang Sudah 5.0 

Buku tersebut merujuk pada momen penting ketika kecerdasan buatan melampaui kemanusiaan dan memicu perubahan drastis dalam lingkungan sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Dampak transformative dari kecerdasan buatan pada aktivitas ekonomi sudah tidak terbantahkan, begitu juga pada pasar tenaga kerja," tegas Prof. Ben Shenglin.

Ia menggambarkan bagaimana kini Maybank yang memangkas begitu banyak staff dan digantikan teknologi. Atau sistem komputasi AliPay yang mampu melayani lebih dari 900 juta transasksi lewat teknologi.

Prof. Ben Shenglin juga melihat, perkembangan menuju Singularity Economy tidak semata perkembangan teknologi saja namun juga memiliki aspek ekonomi dan sosial. Ia menyontohkan bagaimana perkembangan e-commerce dan juga Fintech yang selalu diikuti dengan berbagai aspek mulai dari kreatifitas, sosial hingga kebijakan pemerintah.

Kompetisi dan kolaborasi

Diskusi media bersama Univeristas Prasetiya Mulya (Prasmul) setelah acara wisuda di Jakarta Convention Center, Selasa (11/12/2018) dengan tema ?Powering Indonesia?s Ascent to the Singularity Economy?.Dok. Kompas.com Diskusi media bersama Univeristas Prasetiya Mulya (Prasmul) setelah acara wisuda di Jakarta Convention Center, Selasa (11/12/2018) dengan tema ?Powering Indonesia?s Ascent to the Singularity Economy?.

Hal senada ditambahkan Janson Naiborhu, Dekan Applied STEM Universitas Prasmul, "Kompetisi mau tidak mau menjadi kata kunci. Selisih 500 rupiah saja orang bisa beralih. Di era gadget, pilihan tergantung pada 'jempol'," tegasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.