Mewaspadai Bahaya "Mom-Shaming" dan 5 Pemicunya

Kompas.com - 20/12/2018, 23:04 WIB
Ilustrasi ibu belajar dengan anak monkeybusinessimagesIlustrasi ibu belajar dengan anak

KOMPAS.com - Rasanya kita kerap mendengar orang mengomentari seseorang dengan kalimat yang cenderung melecehkan. Seperti: ”Ih, kok nyusuinnya gitu? Nanti anaknya keselek lho”, “Sering digendong gitu ya? Pantesan anaknya kepalanya peyang” atau “Dikurung di rumah terus sih, jadi anaknya pemalu”.

Para ibu mungkin pernah mendapat komentar seperti di atas dan tentunya kita sangat ingin membantah atau marah terhadap mereka yang mencibir kekurangan anak atau pola asuh kita.

Rasanya kita dihakimi atas apa yang telah kita lakukan pada anak kita sendiri.

Padahal faktanya, belum tentu mereka yang mencibir itu mengerti betul tentang anak kita. Mereka juga tak memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak kita.

Yang mereka ketahui hanya hal-hal tampak di luar yang bisa mereka lihat sejam atau dua jam saat bertemu di acara-acara tertentu. 

Baca juga: Pendidikan Anak Usia Dini, Apa yang Harus Dicermati oleh Orangtua?

Inilah yang disebut "mom-shaming", sebuah perilaku mempermalukan ibu lain dengan cara menampilkan diri sebagai ibu yang lebih baik, lebih hebat, dan paling sempurna. Perilaku ini sampai sekarang masih banyak kita temukan.

Aplikasi mom.life mengungkapkan fakta bahwa sekitar 79 persen ibu pernah mengalami "mom-shaming" dari ibu lain. Korbannya tak hanya pada ibu-ibu muda yang baru mempunyai satu anak. Ternyata ibu-ibu yang telah mempunyai beberapa anak pun tak menutup kemungkinan menjadi korban.

Seorang dokter Richard A. Honaker menyatakan bahwa "mom-shaming" bisa menimbulkan reaksi kimia abnormal dalam otak. Hasilnya, kita menjadi tidak percaya diri hingga depresi.

Beberapa orang mengatakan, hal ini tak usah terlalu ditanggapi karena dampaknya akan berimbas pada korban sepenuhnya. Mayoritas para korban mengatakan bahwa dampak yang sering terjadi adalah memendam kebencian dan sedikit demi sedikit rasa percaya dirinya menjadi berkurang.

Tanpa disadari, ketakutan mendapat cibiran dari sesama ibu-ibu membuatnya membatasi ekspresi dalam mengasuh anak-anak mereka.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X