Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/01/2019, 20:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Menurut dia, rata-rata yang bekerja ke luar daerah itu bekerja di pabrik atau jadi asisten rumah tangga.

Bisa jadi informan saya benar. Karena pendataan yang kacau, siapa pun bisa memiliki identitas lebih dari satu. Karenanya, orang mudah saja mengaku dari Indramayu, asalkan KTP-nya berbunyi begitu.

Namun, pernyataan bahwa tidak banyak lagi anak dan perempuan yang dilacurkan itu sangat debatable. Penelitian saya masih menemukan kasus anak yang dilacurkan, ada lebih dari dua anak di satu desa.

Maka, ini berarti masalah eksploitasi seksual anak khususnya di Indramayu masih belum selesai. Tidak bisa berlega dan bangga hati dengan mengatakan sudah tidak banyak lagi anak yang dilacurkan.

Konstruksi sosial

Kembali ke mangga. Cara bapak tadi menganalogikan perempuan seperti mangga itu rasanya sangat menyedihkan. Dan rupanya si bapak ini bukan satu-satunya orang yang berpendapat serupa.

Sejak pertama mendengar pernyataan tersebut, rasanya seperti echo, berulang-ulang saya mendengar pernyataan yang sama.

Jika dibaca dengan menggunakan teori konstruksi sosial, bahasa punya peranan penting dalam proses obyektivikasi terhadap tanda-tanda. Bahasa adalah representasi simbolis yang mewakili kehidupan sehari-hari.

Jadi, perumpamaan perempuan seperti mangga Indramayu oleh narasumber tersebut bukan kebetulan belaka semata karena di Indramayu banyak mangga.

Jika dihubungkan dengan eksploitasi, tubuh perempuan dihargai tidak lebih dari komoditas perdagangan "sekelas" mangga. Mau dijual Rp 50.000 atau Rp 80 juta, tetap tubuh perempuan adalah barang yang didagangkan.

Dan, berbicara tentang barang dagangan, negara kita sejatinya masih "terjajah" dan kita tanpa disadari meletakkan diri sebagai bangsa terjajah sampai ke akar-akarnya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+