Fitria dan Upaya Guru Menghadirkan Kegembiraan dalam Kelas di Lombok

Kompas.com - 31/01/2019, 21:02 WIB
Fitria Kaplale, guru kelas awal di SDN 2 Pemenang Barat, Lombok Utara, adalah salah satu guru yang terdampak gempa dan mengikuti pelatihan psikoedukasi dalam memulihkan trauma siswa yang terkena dampak bencana.Dok. INOVASI Fitria Kaplale, guru kelas awal di SDN 2 Pemenang Barat, Lombok Utara, adalah salah satu guru yang terdampak gempa dan mengikuti pelatihan psikoedukasi dalam memulihkan trauma siswa yang terkena dampak bencana.

Mengurangi trauma siswa 

Setelah mengikuti pelatihan, Fitria langsung mempraktikkan apa yang didapatnya saat pelatihan. Menurutnya, pelatihan tersebut sangat bermanfaat dan membantu dirinya saat mengajar.

“Ilmu yang kami dapat saat pelatihan kemarin sangat bermanfaat sekali bagi kami para guru dan bahkan bagi siswa. Dengan mempraktikkan apa yang kami dapat saat pelatihan kemarin dapat mengurangi trauma siswa atau  trauma healing,” ungkap Fitria.

Mempraktikkan apa yang didapatkan saat pelatihan diakui tidak begitu sulit bagi Fitria karena menurutnya yang perlu dilakukan guru adalah menyesuaikan metode dengan materi pembelajaran disampaikan.

“Alhamdulillah, sampai saat ini saya belum menemui kendala yang berarti ketika mempraktikkan apa yang saya dapat di pelatihan psikoedukasi kemarin. Menurut saya yang perlu dilakukan adalah mencari hubungan antara metode yang akan kita gunakan dengan materi pelajaran yang akan kita sampaikan,” ujar Fitria.

Perubahan membawa kegembiraan 

Setelah beberapa kali mempraktikkan dalam pembelajaran, perubahan terjadi pun membuat Fitria sangat senang.

Di dalam kelas, siswa-siswanya kini terlihat lebih menikmati kegiatan belajar. Mereka juga sering mengulangi yel-yel atau permainan yang pernah ia praktikkan di kelas tanpa diminta. Hal tersebut menjadi pertanda apa yang dilakukan Fitria di kelas diterima baik oleh siswa.

“Saya tidak menyangka kalau respon siswa-siswa saya seperti itu. Menurut saya ini sangat luar biasa karena kadang-kadang mereka tiba-tiba menyanyikan yel-yel yang pernah saya ajarkan seolah mereka mengajak saya untuk melakukannya lagi," cerita Fitria.

Ia melanjutkan, "Harapan saya semoga dengan seperti ini terus orang tua siswa juga semakin tenang untuk mengizinkan anak-anak mereka belajar di sekolah.”

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X