Kompas.com - 20/02/2019, 09:30 WIB
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) resmi ditutup oleh Menristekdikti Mohamad Nasir di Gedung Soedarto Universitas Diponegoro (4/1/2019). Dok. KemenristekdiktiRapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) resmi ditutup oleh Menristekdikti Mohamad Nasir di Gedung Soedarto Universitas Diponegoro (4/1/2019).

KOMPAS.com - Belum lama ini media sosial ramai membicarakan kicauan Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak Achmad Zaky yang menyinggung soal dana research and development Indonesia yang dinilainya tertinggal dari negara lain.

Dalam twitnya, Zaky menulis: "Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD) 1. US 511B 2. China 451 B 3. Jepang 165B 4. Jerman 118B 5. Korea 91B 11. Taiwan 33B 14. Australia 23B 24 Malaysia 10B 25. Spore 10B 43. Indonesia 2B. Mudah2an presiden baru bisa naikin".

Sontak twit ini menjadi bahan pembicaraan di media sosial Twitter pada Kamis (14/2/2019). Bagaimana sebenarnya prestasi perkembangan riset dan penelitian Indonesia?

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada acara "Bedah Kinerja 2018 dan Fokus Kinerja 2019" yang mengangkat tema "Penyiapan SDM Milenial Indonesia Kreatif, Inovatif dan Berdaya Saing Tinggi" (28/1/2019) menyinggung setidaknya 6 aspek terkait perkembangan riset dan penelitian di Indonesia:

1. Jumlah publikasi ilmiah

Selama 4 tahun sejak 2015 hingga 2018, pertumbuhan publikasi internasional Indonesia mencapai 263,27 persen. Publikasi internasional Indonesia pada 2015 mencapai 8.263 artikel ilmiah (peringkat 4 Asia Tenggara).

Baca juga: Mendorong Penelitian yang Menjawab Kebutuhan Masyarakat

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Tahun 2016 jumlah tersebut meningkat 48,79 persen menjadi 12.295 artikel ilmiah (peringkat 4 Asia Tenggara). Pada 2017, publikasi internasional Indonesia meningkat 64,61 persen menjadi 20.239 (peringkat 3 Asia Tenggara, mengalahkan Thailand).

Pada 2018, dengan pertumbuhan 48,31, Indonesia akhirnya dapat menduduki peringkat 2  Asia Tenggara, mengalahkan Singapura dengan jumlah publikasi internasional mencapai 30.017. Pada tahun 2019, Indonesia menargetkan menggantikan Malaysia menjadi negara Asia Tenggara dengan jumlah publikasi internasional terbanyak. 

2. Angka hasil penelitian dan paten

Paten domestik (dalam negeri) yang didaftarkan di Indonesia dibandingkan paten domestik yang didaftarkan di negara-negara ASEAN terus meningkat. Dari peringkat ketiga pada 2015, Indonesia kini menjadi negara di ASEAN dengan paten domestik tertinggi.

Pada 2015 paten domestik Indonesia mencapai 1.058 paten (peringkat 3 ASEAN). Pada 2016 paten domestik Indonesia meningkat 43 paten menjadi 1.101 (peringkat ketiga). Pada 2017 peningkatan tajam sekitar 1.100 paten dicatatkan di Indonesia.

Totalnya pada 2017, Indonesia mencatatkan paten domestik berjumlah 2.271 (peringkat pertama, mengalahkan Singapura dan Malaysia). Peringkat pertama jumlah paten dalam negeri masih dimiliki Indonesia pada 2018 dengan peningkatan angka paten sekitar 500, yang menjadikan angka paten domestik Indonesia mencapai 2.842 (peringkat pertama). 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X