UGM: Indonesia Belum Bebas DBD

Kompas.com - 08/03/2019, 23:33 WIB
Dalam rangkaian dies natalis ke-73, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Seminar Nasional ?Demam Berdarah Dengue dalam Perspektif Sistem Kesehatan (2/3/2019). Dok. UGMDalam rangkaian dies natalis ke-73, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Seminar Nasional ?Demam Berdarah Dengue dalam Perspektif Sistem Kesehatan (2/3/2019).

KOMPAS.com - Dalam rangkaian dies natalis ke-73, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada ( UGM) menggelar Seminar Nasional “Demam Berdarah Dengue dalam Perspektif Sistem Kesehatan" (2/3/2019).

Dilansir dari laman resmi UGM, (4/3/2019), seminar ini diadakan terkait terjadinya lonjakan kasus DBD di Indonesia pada beberapa waktu belakangan ini.

Tidak hanya itu, siklus DBD terbilang menarik karena erat kaitannya dengan masalah di luar kesehatan. Hal itu seperti kebersihan lingkungan, cuaca, hingga status gizi dapat memengaruhi terjadinya penyakit ini.

Oleh karena itu, FKKMK mencoba meniliknya dari perspektif sistem kesehatan saat ini yang berada pada era Jaminan Kesehatan.

2 faktor utama

Citra Indriyani salah seorang pembicara menyatakan epidemiologi DBD di Indonesia telah meningkat selama kurun waktu 1968-2017. Peningkatan ini menurutnya terjadi karena banyak faktor.

Baca juga: 685 Warga Jakarta Timur Terserang DBD, 1 Meninggal Dunia

“Pertama, bisa kita lihat dari pertumbuhan populasi manusia sebagai salah satu media yang terikat dengan Nyamuk Aedes aegypti. Semakin banyak manusia, semakin banyak pula kesempatan penyakit ini menyebar," jelasnya.

Kedua, kondisi lingkungan juga berpengaruh. Perubahan iklim yang membuat curah hujan sepanjang tahun, memungkinkan reproduksi dari Nyamuk Aedes aegypti semakin cepat. "Bisa dibilang panen,” ungkap Dosen Epidemiologi FKKMK UGM ini.

7 dari 10 anak

Citra melanjutkan berdasarkan WHO, Indonesia bahkan disebut sebagai kawasan hiperendemis DBD. Ia menyebut bahwa 7 dari 10 anak di Indonesia pernah mengalami dengue, meskipun bermacam-macam tingkat bahayanya.

“Dari waktu ke waktu, Indonesia mengalami endemik DBD, namun kawasannya berganti-ganti, tidak hanya berdiam di satu tempat saja,” tuturnya.

Walaupun demikian, Citra mensyukuri bahwa pertumbuhan ini disertai dengan perkembangan tata laksana klinis yang semakin baik pula. Hal itu membuat angka fatalitas dari DBD ini juga semakin kecil.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X