Kompas.com - 14/04/2019, 13:16 WIB
Menristekdikti menjelaskan kepada awak media saat peninjauan pelaksanaan UTBK gelombang 1 di Kampus UI Salemba (13/4/2019). Dok. KemenristekdiktiMenristekdikti menjelaskan kepada awak media saat peninjauan pelaksanaan UTBK gelombang 1 di Kampus UI Salemba (13/4/2019).

KOMPAS.com - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengingatkan lokasi tes tidak dijadikan landasan diterima atau tidaknya pendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Hal ini disampaikan Menristekdikti saat memonitor pelaksanaan UTBK gelombang 1 di Papua hingga Aceh hari ini (13/4/2019) di telecoference sejak pukul 7 WIB di Gedung BPPT di Jakarta. 

Setelah memeriksa lokasi UTBK di seluruh Indonesia, Menristekdikti juga berkesempatan melihat pelaksanaan UTBK di salah satu lokasi UTBK, yaitu Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba di Jakarta. 

Yang penting hasil nilai

Menristekdikti menegaskan pandangan calon mahasiswa harus mengambil tes di perguruan tinggi yang ingin dituju adalah pandangan yang salah.

"Tempat tes semua sama, yang penting hasil nilainya nanti nilai yang tertinggi. Inilah yang digunakan untuk mendaftar, jadi jangan khawatir pada rakyat Indonesia yang mereka tes di daerah masing-masing," tegas Menristekdikti.

Baca juga: UTBK 2019 Dilakukan 24 Sesi, Ini Strategi LTMPT Cegah Kebocoran

Ia menerangkan, "Katakan dari Maluku, dari Papua, kemudian dia akan ambil di Universitas Indonesia, silakan. Apakah nanti ada bedanya yang tes di Papua sama yang di Jakarta? Semua lokasinya sama." 

Mohamad Nasir juga menyampaikan UTBK kali ini memiliki banyak kemudahan bagi peserta, termasuk tes dapat dilakukan di setiap provinsi dan hasil nilai dapat muncul 10 hari setelah tes beserta rata-rata nilai dari seluruh peserta secara nasional.

Coba lagi tes ke-2

"Saya berharap jangan sampai terjadi gugup atau risau. Silakan Anda mendaftar, masih ada waktu yang cukup, yaitu 24 kali tes. Ini masih ada kesempatan banyak," pesan Menristekdikti kepada seluruh peserta UTBK.

Di hadapan awak media, Menristekdikti menyatakan peserta UTBK diharapkan dapat belajar dari tes pertamanya di UTBK untuk mencoba lagi pada tes kedua, apabila dia merasa belum maksimal di tes pertama.

"Kalau dia pada saat tes, nilainya dirasa kurang yakin, dia diberikan kesempatan lagi untuk tes kembali. Dua kali dia bisa melakukan tes ini," ungkap Nasir di Gedung Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) UI setelah melihat pelaksanaan UTBK di Kampus UI Salemba.

Cegah kebocoran

Dalam kesempatan sama, Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi ( LTMPT) Ravik Karsidi menyatakan pelaksanaan UTBK SBMPTN kali ini berbeda dengan SBMPTN tahun lalu, karena diselenggarakan tidak sekali serentak, melainkan beberapa kali.

Sesuai jadwal, 24 sesi UTBK akan dilaksanakan untuk SBMPTN 2019 yang terbagi dalam 2 gelombang. Terkait hal ini, LTMPT telah mengupayakan berbagai hal untuk memastikan soal UTBK tidak disebarluaskan.

"Kalau dulu model berbasis kertas, berbasis cetak ini gampang sekali (disebarluaskan). Ini soalnya kita sudah punya berpuluh-puluh set yang kita sudah siapkan. Dalam satu ruangan itu, bahkan sebelahan tidak bisa saling jiplak-menjiplak," jelas Prof. Ravik Karsidi.

Ini sudah kita lakukan sedemikian rupa. Walaupun tidak sama, ini setara. Sistem kesetaraan ini kita pertanggungjawabkan secara ilmiah," ungkap Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Ravik Karsidi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X