Mahasiswa Indonesia di Denmark Selesaikan Studi Tepat Waktu

Kompas.com - 19/04/2019, 11:33 WIB
Salah satu sudut negara Denmark ec.europa.euSalah satu sudut negara Denmark
KOMPAS.com - Jumlah mahasiswa Indonesia di Denmak memang hanya sedikit dibandingkan dengan negara-negara Eropa lain seperti Belanda, Inggris, Jerman, atau Perancis. Namun, mahasiswa di negara Skandinavia ini umumnya menyelesaikan studinya tepat waktu.
 
“Di sini belajarnya lebih tertib. Rata-rata tiga tahun mereka sudah selesai. Saya beberapa kali menghadiri undangan mahasiswa yang mempertahankan disertasinya,” kata Duta Besar Indonesia untuk Denmark, M.Ibnu Said, ketika ditemui di KBRI Denmark (12/4/2019).

Tingkat persaingan

Ia mengatakan, sejauh ini hanya ada 40 mahasiswa Indonesia yang tersebar di beberapa universitas di seluruh Denmak, namun yang paling banyak di Copenhagen.
 
Mengenai kesempatan beasiswa di negeri sejuk tersebut, Ibnu menjelaskan cukup banyak jalur yang bisa dipakai, mulai dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan RI (LPDP), beasiswa Dikti, beasiswa dari pemerintah Denmark atau pun dari perusahaan swasta.
 
“Dibandingkan dengan negara Swedia, promosi kuliah di Denmark memang sedikit. Padahal universitas di sini banyak yang masuk papan atas,” katanya.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan untuk kuliah di Denmark memang sedikit lebih tinggi karena peningkatan jumlah imigran, terutama dari negara-negara Eropa Timur dan negara yang berkonflik di Timur Tengah.

Kemudahan akses

Rinatania Fajrani, mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil studi S3 di University of Copenhagen, Denmark.Dok. Pribadi Rinatania Rinatania Fajrani, mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil studi S3 di University of Copenhagen, Denmark.

Menurut Rinatania Fajrani, mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil studi S3 di University of Copenhagen, kelebihan kuliah di negara ini adalah kemudahan akses terhadap publikasi jurnal internasional.
 
“Di sini aksesnya sangat mudah. Kita bebas pinjam buku ke perpustakaan, termasuk akses ke jurnal dan buku online yang semuanya unlimited karena mereka sudah lisensed dengan jurnal internastional,” kata Rina.
 
Hal lain yang disukainya selama di Denmark adalah kemampuan berpikir kritis di lingkungan kampusnya yang menurutnya sangat mendukung studinya.
 
“Kalau kita presentasi, mereka akan mendengarkan serius lalu memberi feedback yang membangun. Kritik juga disampaikan dengan cara yang baik, bukan untuk menjatuhkan. Sangat supportive dan membantu kita berargumen dengan baik,” kata wanita yang mengambil subjek riset tentang social intimacy, internet, dan Islam ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X