Upaya LIPI Mewujudkan Pemulihan Citarum

Kompas.com - 20/04/2019, 23:17 WIB
Suasana pemandangan Sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1/2018). Pemerintah melalui Badan Pembangunan dan Perencanaan Nasional (Bappenas) akan kembali melanjutkan program revitalisasi Sungai Citarum pada Februari 2018 dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat serta industri yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Citarum.ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI Suasana pemandangan Sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1/2018). Pemerintah melalui Badan Pembangunan dan Perencanaan Nasional (Bappenas) akan kembali melanjutkan program revitalisasi Sungai Citarum pada Februari 2018 dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat serta industri yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Citarum.

KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan teknologi membantu upaya pemulihan sungai Citarum.

“Sungai Citarum semakin hari makin tinggi tingkat polusi dan pencemarannya sehingga menjadi permasalahan akut di sungai terpanjang di wilayah Jawa Barat ini,” jelas Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI, Sri Priatni dilansir dari laman Kemeristekdikti.

Dirinya menjelaskan, hasil penelitian LIPI ini bisa dipakai dan dikembangkan oleh pemerintah Jawa Barat serta berbagai pihak lain sehingga mimpi melihat sungai Citarum kembali bersih bisa terlaksana.

Peneliti LPTB LIPI, Neni Sinta Wardani mengungkapkan area riset LIPI  lebih fokus di daerah hulu Citarum.

Limbah pemukiman

“Penanganan Citarum di daerah hulu terutama di kawasan Bandung Raya menjadi titik perhatian utama LIPI karena ada 8 anak sungai yang sebagian besar mengalir melewati pemukiman padat,” jelasnya.

Baca juga: Kepingan Baru dalam Penuntasan Banjir di Kawasan Sungai Citarum

Menurut Neni, pemukiman di area ini memegang porsi 5 persen dari keseluruhan polutan domestik Citarum.

Terkait limbah yang berasal dari WC warga, LPTB LIPI telah mengembangkan teknologi toilet pengompos yang sesuai untuk diterapkan di lingkungan yang sulit air bersih dan kekurangan sarana sanitasi.

Sementara untuk limbah kotoran ternak serta industri pangan seperti tahu dan tempe, LIPI telah berhasil menerapkan teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobic dengan teknik multi-tahap di sentra industri tahu di Giriharja, Sumedang.

“Limbah yang dihasilkan menjadi layak buang ke sungai dan biogas yang dihasilkannya telah digunakan oleh 88 rumah tangga di sekitarnya. Teknologi ini juga bisa diaplikasikan untuk penanganan kotoran hewan,” jelas Neni.

Limbah industri

Sementara untuk penanganan limbah industri tekstil yang menjadi penyebab turunnya kualitas air sungai Citarum, LIPI telah mengembangkan metode yang lebih mudah dan cepat untuk memonitor zat-zat yang terkandung pada zat pewarna tekstil.

 

“Metode ini menekan biaya monitoring dan hasilnya sesuai standar nasional dan internasional. Ada delapan peneliti monitoring yang mengembangkan metode pemantauan berbasis Green Analytical Chemistry (GAC). Termasuk di dalamnya prosedur teknis analisis residu pestisida, polutan logam berat serta sensor kimia,” kata peneliti LPTB LIPI, Willy Cahya Nugraha.

Sedangkan untuk pengurangan limbah plastik, LIPI telah mengembangkan bio-plastik sebagai alternatif untuk menggantikan plastik biasa”.

“Bio-plastik tersebut berbasis pati yang mudah diurai mikroba alami dengan cepat yang berpeluang menjadi solusi limbah plastik saat ini,” ujar peneliti LPTB LIPI, Hanif Dawam Abdullah.



Close Ads X