"Academic Leader 2019": Mendorong Lokomotif Inovasi Perguruan Tinggi

Kompas.com - 20/05/2019, 16:02 WIB
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti dalam bincang bersama media terkait sosialisi Academic Leader Awards 2019 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta (20/5/2019). Dok. Direktorat SDIDDirektur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti dalam bincang bersama media terkait sosialisi Academic Leader Awards 2019 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta (20/5/2019).

KOMPAS.com - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) akan kembali menggelar "Academic Leader Awards" tahun 2019.

Penghargaan ini akan diberikan kepada rektor dan dosen yang sepanjang karirnya telah menghasilkan karya inovasi bidang pembelajaran, bidang penelitian dan publikasi ilmiah serta inovasi dalam bidang sains dan teknologi secara nasional dan internasional yang sangat bermanfaat bagi pembangunan nasional. 

Para pemenang "Academic Leader" ini diharapkan nantinya dapat menjadi role model dan inspirasi dosen lain di bidang keilmuannya.

Rektor bukan "tugas tambahan" 

Dalam bincang bersama media terkait sosialisi "Academic Leader Awards 2019" di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta (20/5/2019), Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menyampaikan peran rektor atau direktur menjadi kunci dalam keberhasilan suatu perguruan tinggi.

Baca juga: Academic Leader 2019 Digelar, Ini Syarat, Jadwal dan Tahapannya

"Apa yang dihasilkan dari kepemimpinan tersebut, baik lulusan, riset, dan inovasi dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan nusa dan bangsa," ujarnya.

Kendati demikian, dari 4.741 perguruan tinggi di Indonesia, tidak semuanya memiliki seorang pemimpin atau leader yang kuat. Krisis kepemimpinan pun tak jarang justru kian membuat persoalan semakin kompleks karena masalah internal perguruan tinggi.

“Sebagai dosen mungkin dalam satu hari bekerja selama delapan jam, tetapi ketika menjadi rektor minimal bekerja sampai 12 jam dalam sehari. Bahkan sudah di rumah juga harus siap dengan pekerjaan," ujarnya.

Ia menegaskan tugas rektor jika dilihat dari sudut pandang esensi pekerjaan, maka tugas seorang rektor atau direktur tidak bisa dikatakan sebagai tugas tambahan.

"Tetapi karena menyangkut tunjangan dan insentif, seperti jika seorang pimpinan perguruan tinggi adalah profesor, dia akan kehilangan tunjangan kehormatan guru besar. Sehingga kesan saya, dari sisi administrasi Kemenpan-RB menyebut sebagai tugas tambahan karena tugas pokoknya sebagai guru besar,” terang Ghufron.

Jadi "lokomotif" universitas

Seorang rektor atau direktur di suatu perguruan tinggi, lanjut Dirjen Ghufron, harus mampu memobilisasi dan menggerakkan gerbong universitas yang dipimpinnya ke sebuah titik yang menjadi tujuan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X