Mengajak Siswa SD Perangi Sampah Plastik

Kompas.com - 23/05/2019, 14:01 WIB
Di SDN Cibatu 03, SDS Ekklesia Lippo Cikarang, serta SD Don Bosco Cikarang pada Rabu (22/5/2019) kemarin misalnya, program edukasi untuk memerangi sampah plastik dilakukan terhadap siswa sekolah dasar. Dok Lippo CikarangDi SDN Cibatu 03, SDS Ekklesia Lippo Cikarang, serta SD Don Bosco Cikarang pada Rabu (22/5/2019) kemarin misalnya, program edukasi untuk memerangi sampah plastik dilakukan terhadap siswa sekolah dasar.
Editor Latief

BEKASI, KOMPAS.com - Isu memerangi sampah plastik semakin gencar dan bahkan sudah dilakukan dengan membidik anak-anak usia sekolah dasar.

Seperti di SDN Cibatu 03, SDS Ekklesia Lippo Cikarang, serta SD Don Bosco Cikarang pada Rabu (22/5/2019) kemarin misalnya, program edukasi untuk memerangi sampah plastik dilakukan terhadap siswa sekolah dasar. Para siswa diberi penyuluhan tentang penggunaan plastik dan bahayanya.

"Anak-anak ini diberitahu tentang gambaran bahaya penggunaan plastik dan dampaknya bagi lingkungan mereka, baik di rumah maupun di sekolah. Setidaknya, dengan cara ini wawasan mereka semakin bertambah tentang bahaya penggunaan plastik," ujar Murida, salah seorang guru di SD Don Bosco Cikarang pada kegiatan Lippo Cikarang Mengajar yang fokus pada penyuluhan tentang penggunaan plastik.

Menurut dia, tingginya pemakaian sedotan plastik misalnya, sangat memungkinkan terjadinya kerusakan pada lingkungan, karena sukarnya penguraian material berbahan dasar plastik. Penggunaan sedotan plastik itu sendiri dekat dengan kehidupan anak-anak sekolah dasar sehingga sangat tepat memberikan edukasi terkait hal ini.

Sosiawan Putra, Public Relations PT Lippo Cikarang Tbk, mengatakan kegiatan Lippo Cikarang Mengajar tahun ini memang tidak hanya memberikan tentang pengenalan profesi, juga pada edukasi tentang penggunaan plastik di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kontribusi dalam pengurangan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Putra menjelaskan, program tersebut menyasar ke beberapa sekolah di Kabupaten Bekasi. Targetnya, murid-murid menjadi lebih paham tentang dampak negatif penggunaan plastik. Untuk itu, selain memberikan alat tulis untuk siswa, para instruktur program ini juga memperkenalkan kemasan yang terbuat dari singkong yang dapat terurai di tanah maupun air. 

"Kami ingin anak-anak bisa bisa mengurangi pemakaian plastik di lingkungan sekolah. Jajanan di sekolah kan banyak yang memakai medium plastik. Dengan memberi pemahaman ini kami berharap anak-anak sudah dapat terlibat untuk menjaga lingkungannya sejak dini," kata Putra.

Menurut dia, kampanye memerangi sampah plastik makin penting dilakukan mengingat keberadaan sampah plastik masih menjadi momok bagi pemerintah dan rakyat Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahkan menyebutkan bahwa jumlah sampah plastik di Indonesia telah mencapai level mengkhawatirkan.

Kekhawatiran itu bisa dilihat dari data KLHK yang menyebutkan bahwa jumlah sampah plastik di Indonesia dalam kurun waktu satu dekade terakhir menunjukkan tren meningkat. Sejak 2002 hingga 2016 terjadi peningkatan jumlah sampah plastik sebesar 5 persen. Peningkatan sampah plastik naik dari 11 persen menjadi 16 persen, termasuk di beberapa kota yang komposisinya bahkan sudah mencapai 17 persen.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan target baru dalam hal pengelolaan sampah plastik dengan pengurangan hingga 30 persen dan pengelolaan sebesar 70 persen pada 2025 mendatang.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X