Akademisi UI: Langkah Pemerintah Batasi Penyebaran Konten Medsos Tepat

Kompas.com - 27/05/2019, 15:26 WIB
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah pemerintah membatasi penyebaran konten pada media sosial di sejumlah daerah merupakan keputusan tepat. Konten hoaks yang membanjiri jagad media sosial belum tentu sesuai fakta.

Hal tersebut dipaparkan staf pengajar Departemen Filsafat Universitas Indonesia Donny Adian Gahral, Senin (27/5/2019). Terlebih, menurut Donny, setelah meletusnya kericuhan antara aparat dengan massa pada 22 Mei lalu konten sosmed penuh informasi menyesatkan.

Donny menilai langkah pemerintah sudah tepat karena kebebasan berpendapat dalam hak asasi manusia tidak mutlak.

"Kalau kebebasan berpendapat yang menghasut, memecah belah, dan memanipulasi informasi bisa dibatasi, apalagi saat situasi genting dimana keselamatan bangsa dan negara menjadi taruhannya," kata Donny.

Untuk itu, Donny mengajak pengguna medsos agar tak gampang mengirim atau malanjutkan (forward) informasi dari sumber yang dirasa masih meragukan.

"Supaya tercipta masyarakat yang sehat dan kritis. Mereka tidak gampang termakan propaganda agitasi yang tidak masuk akal," kata Donny.

Sementara itu, pemerhati komunikasi Fetty Azizah juga menilai positif langkah pemerintah mengambil keputusan tegas tersebut. Fetty mengatakan, tanpa ketertiban, di dalam negara demokrasi seperti Indonesia hanya akan menghasilkan sikap anarki.

"Konten hoaks yang tidak berbasis fakta bisa menimbulkan instabilitas. Marak beredarnya video, foto, dan konten lain di sosmed pada kenyataannya tidak bisa dijamin oleh penyedia platform, seperti instagram facebook, atau Whatsapp, dan lainnya," tambah Fetty.

Dia mencontohkan pada beberapa negara maju seperti Jerman dan Singapura sudah mengatur penggunaan sosmed. Pengguna yang melanggar aturan itu akan dikenakan sanksi hukum.

"Negara harus membuat aturan yang membatasi konten sosmed semata untuk menciptakan ketertiban (order) di sosmed. Jadi, untuk alasan menjaga ketertiban umum memang diperlukan pembatasan-pembatasan," ujarnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.