PBNU Nilai Penerapan Sistem Zonasi PPDB Prematur, Ini 4 Alasannya

Kompas.com - 21/06/2019, 10:20 WIB
Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi ketika ditemui di Kantor MUI Jakarta, Selasa (15/5/2018). KOMPAS.com/ MOH NADLIRKetua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi ketika ditemui di Kantor MUI Jakarta, Selasa (15/5/2018).

KOMPAS.com - Menanggapi pelaksaan sistem zonasi PPDB 2019 yang telah dibuka di beberapa daerah, Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatu Ulama ( PBNU) Bidang Pendidikan KH Masduki Baidlowi menilai implementasi PPD berbasis zonasi masih prematur.

"Implementasi Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB berbasis zonasi dimaksudkan untuk mengatasi kesenjangan mutu pendidikan yang selama ini terjadi di negara kita," ujar KH Masduki seperti dikutip dari rilis resmi PBNU (20/6/2019).

Ia menyampaikan, problem akut ini sangat sulit diatasi sebabnya antara lain karena guru yang bagus-bagus banyak menumpuk di satu tempat atau satu sekolah sehingga timbul istilah sekolah favorit terutama ini terjadi di kota-kota, kabupaten atau pun di kota-kota besar lainnya.

Ada beberapa alasan Wasekjen PBNU Bidang Pendidikan ini menilai implementasi sistem zonasi Permendikbud masih prematur

1. Kualitas guru masih di standar

Guru di sekolah-sekolah pedalaman banyak bermasalah dengan cara mengajar mereka, alias tidak bermutu. Timbulnya istilah "schooling without learning (bersekolah tapi tidak belajar) yang dialami negara berkembang termasuk Indonesia, adalah karena banyak guru tidak memenuhi standar mutu belajar seperti yang diinginkan standar pendidikan nasional.

Baca juga: Ini Dia Seputar Sistem PPDB 2019 yang Penting untuk Anda Ketahui

Kebijakan zonasi sebenarnya ditujukan untuk mengatasi kesenjangan mutu pendidikan ini terutama dari segi bagaimana caranya membagi guru-guru yang bagus mutunya dipindah ke daerah-daerah yang mutu pendidikannya masih rendah.

Kondisi guru memegang posisi kunci penting maju dan tidaknya lembaga pendidikan. Artinya, kalau ibaratnya standar-standar nasional yang lain kurang memadai, tetapi gurunya bermutu, maka sekolahan dan sistem pembelajarannya akan berjalan dengan baik.

2. Rasio guru dan siswa

Sebab lain, guru bermutu tidak seimbang dengan banyak murid hendak belajar di kelas. Banyaknya lembaga-lembaga bimbingan belajar menandakan berapa minim guru mengajar dengan baik, sekaligus menandakan betapa banyak murid belajar tetapi tidak mengerti terhadap apa yang diajarkan guru pada si murid.

3. Sertifikasi guru tidak berkelanjutam

Kebijakan sertifikasi guru semula direncanakan meningkatkan mutu pendidikan nasional ternyata gagal total karena para guru yang sudah lolos sertifikasi tidak pernah dievaluasi, tidak pernah diberikan tantangan meningkatkan prestasi.

Negara juga tidak menyiapkan sistem evaluasinya sehingga sertifikasi guru itu bisa dikatakan gagal total kalau dilihat dari segi tujuan meningkatkan mutu pendidikan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perkuat Wawasan Konstitusi, Untar Tuan Rumah Kompetisi Peradilan Semu

Perkuat Wawasan Konstitusi, Untar Tuan Rumah Kompetisi Peradilan Semu

Edukasi
Lulusan SMK hingga S1, Ini Jadwal Lengkap Seleksi CPNS Kemendikbud 2019

Lulusan SMK hingga S1, Ini Jadwal Lengkap Seleksi CPNS Kemendikbud 2019

Edukasi
CPNS 2019 Kemendikbud Cari Lulusan SMK hingga S1, Ini Jurusan Dibutuhkan

CPNS 2019 Kemendikbud Cari Lulusan SMK hingga S1, Ini Jurusan Dibutuhkan

Edukasi
Kemendikbud Buka Formasi CPNS 2019, Ini Unit Kerja serta Syarat yang Dibutuhkan

Kemendikbud Buka Formasi CPNS 2019, Ini Unit Kerja serta Syarat yang Dibutuhkan

Edukasi
Tidak Hanya Pintar, Ini 15 Universitas Terbaik dalam Pengabdian Masyarakat

Tidak Hanya Pintar, Ini 15 Universitas Terbaik dalam Pengabdian Masyarakat

Edukasi
Cerita Afni dan Perjalanannya Meraih Cita-Cita

Cerita Afni dan Perjalanannya Meraih Cita-Cita

BrandzView
Perkuat Kompetensi Guru Kreatif, Yayasan Pendidikan Astra Gelar Seminar STEM

Perkuat Kompetensi Guru Kreatif, Yayasan Pendidikan Astra Gelar Seminar STEM

Edukasi
Mengenal Prof Bambang Hero Saharjo, Penerima Penghargaan Internasional John Maddox

Mengenal Prof Bambang Hero Saharjo, Penerima Penghargaan Internasional John Maddox

Edukasi
Ini Dia Para Jawara 'IdeaNation 2019', dari Kampus Mana Saja?

Ini Dia Para Jawara "IdeaNation 2019", dari Kampus Mana Saja?

Edukasi
Sering Kehilangan Semangat Belajar? Coba Lakukan Hal Ini!

Sering Kehilangan Semangat Belajar? Coba Lakukan Hal Ini!

BrandzView
Kisah Ayah Inspiratif, dari Buruh Tani hingga Antar Anak Tiap Hari

Kisah Ayah Inspiratif, dari Buruh Tani hingga Antar Anak Tiap Hari

Edukasi
Upaya Menyandingkan 'Habibie Award' Jadi Sekelas 'Nobel'

Upaya Menyandingkan "Habibie Award" Jadi Sekelas "Nobel"

Edukasi
Wahai Mahasiswa yang Hobi Rebahan, Ini 7 Pekerjaan Sampingan Cocok Buat Kamu

Wahai Mahasiswa yang Hobi Rebahan, Ini 7 Pekerjaan Sampingan Cocok Buat Kamu

Edukasi
Berjasa Bidang Pengetahuan, Ini 5 Penerima 'Habibie Award 2019'

Berjasa Bidang Pengetahuan, Ini 5 Penerima "Habibie Award 2019"

Edukasi
Prof. Bambang Hero Saharjo Raih Penghargaan Internasional 'John Maddox Prize 2019'

Prof. Bambang Hero Saharjo Raih Penghargaan Internasional "John Maddox Prize 2019"

Edukasi
Close Ads X