Kompas.com - 17/07/2019, 15:37 WIB
Bentara Budaya Jakarta akan menggelar pameran tunggal karya seni rupa seniman Gigih Wiyono bertajuk Subur Makmur. Pameran akan berlangsung 19-27 Juli 2019 mulai pukul 10.00 - 16.00 WIB. DOK. BENTARA BUDAYA JAKARTABentara Budaya Jakarta akan menggelar pameran tunggal karya seni rupa seniman Gigih Wiyono bertajuk Subur Makmur. Pameran akan berlangsung 19-27 Juli 2019 mulai pukul 10.00 - 16.00 WIB.

KOMPAS.com - Bentara Budaya Jakarta akan menggelar pameran tunggal karya seni rupa seniman Gigih Wiyono bertajuk "Subur Makmur". Pameran akan berlangsung 19-27 Juli 2019 mulai pukul 10.00 - 16.00 WIB.

Pembukaan pameran akan dilaksanakan Kamis, 18 Juli 2019 pukul 19.30 WIB dan diresmikan oleh Restu Gunawan, Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Efix Mulyadi (Kurator Bentara Budaya) mengungkapkan sebagai seniman kontemporer Gigih masih sangat terhubung langsung dengan budaya agraris yang tergerus modernitas.

Baca juga: Beranda Sastra BBJ: Menghindari Terjebak Nostalgia

 

“Gigih dengan sepenuh hati mencoba menghidupkan budaya agraris dalam karya seni rupanya. Semangat kebaruan dihidupinya dengan member konteks baru pada artefak maupun jejak tradisi agraris yang digali dan dirawatnya,” jelas Efix Mulyadi.

Tetumbuhan dan perempuan

E-Poster Pameran Gigih Wiyono bertajuk Subur MakmurDOK. BBJ E-Poster Pameran Gigih Wiyono bertajuk Subur Makmur

Gigih Wiyono, yang lahir dan tumbuh di daerah pertanian kabupaten Sukoharjo (Jawa Tengah) membuat tema kesuburan dan kemakmuran selalu lekat dalam setiap karyanya.

Setelah pada periode sebelumnya ia menggali tema tentang mitos Dewi Sri, pada kali ini ia akan mencoba mengembangkan dan menajamkan konsep tersebut ke dalam konteks kesuburan dan kemakmuran.

Sejumlah karya berupa 28 lukisan dan 11 patung akan ditampilkan di dalam pameran ini.

Banyak karya Gigih Wiyono menampilkan daun-daun, tetumbuhan, dan perempuan. Gigih mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, pesan yang disampaikan melalui karya yang ia buat dapat menjangkau ke wilayah yang sangat luas.

Jika pada periode sebelumnya ia menampilkan buah kelapa digerogoti tupai untuk menggambarkan budaya korupsi, kali ini ia menampilkan wanita mengenakan burka untuk menyampaikan renungan dan pandangannya tentang kehidupan bersama.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X