Kompas.com - 18/07/2019, 20:32 WIB
Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut perlunya keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam penguatan pendidikan vokasi di sela-sela Seminar Revitalitasi Pendidikan Tinggi Vokasi yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta (17/7/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARManaging Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut perlunya keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam penguatan pendidikan vokasi di sela-sela Seminar Revitalitasi Pendidikan Tinggi Vokasi yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta (17/7/2019).

Roeslan melanjutkan, "Sebanyak 18 persen berasal dari SMP dan hanya 12 - 13 persen mempunyai latar belakang diploma atau universitas. Kalau dilihat struktur tenaga kerja kita seperti ini, bagaimana kita punya tenaga kerja yang produktif, yang beradaptasi secara cepat dan bisa mendorong competitiveness kita?"

Hal senada juga disampaikan Muliaman Darmansyah Hadad (Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss merangkap Liechtenstein). Ia mengatakan masalah pendidikan vokasi yang kurang diminati industri dan masyarakat, dihadapi tidak hanya di Indonesia, tapi negara lainnya.

"Bukan cuma di negara kita, setelah saya check perkembangan di beberapa negara, ini juga menjadi second option, pendidikan vokasi ini. Ini kita harus ubah mindset ini," ujarnya.

Terkait "link and match"

"Saya kira industri juga kadang-kadang enggan untuk mempekerjakan lulusan-lulusannya (pendidikan vokasi), tidak tahu saya, tapi dugaan saya ini terkait link and match issues, apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan kadang-kadang tidak pas," tambah Muliaman.

Menggandeng Kemenristekdikti, Kedutaan Besar RI di Bern, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Eka Tjipta Foundation (ETF), Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB), Politeknik Sinar Mas Berau (Poltek Simas Berau) bersama Univesitas Prasetiya Mulya serta beberapa perusahaan lain, Sulistiyanto menyampaikan pihaknya berupaya model pendidikan dual vocational education and training yang lazim disebut dual system dapat dipahami lebih mendalam, dan kemudian direplikasi pada sejumlah lembaga pendidikan vokasi Indonesia yang telah dan akan berdiri.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir yang hadir sebagai pembicara kunci menyampaikan, revitalisasi akan terfokus pada lembaga pendidikan vokasi yang telah ada berikut pembenahan kurikulum, fasilitas dan infrastruktur, berikut kualitas tenaga pendidik.

“Sehingga para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak saja memegang ijazah, namun memiliki pula sertifikat kompetensi. Jangan sampai para lulusan memiliki ijazah, tapi tidak kompeten. Dengan begitu, nantinya sebelum bekerja, mereka tidak lagi ditanya berasal dari perguruan tinggi mana, tapi cukup ditanya apa sertifikat kompetensi yang dimiliki,” ujar Menristekdikti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Intensif dunia usaha

Sulistiyanto mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan pemerintah memberlakukan super tax deductible atau insentif fiskal dalam bentuk keringanan pajak bagi industri yang berinvestasi pada pendidikan vokasi, serta aktivitas penelitian dan pengembangan.

“Harapannya, seluruh inisatif perusahaan dalam pendidikan vokasi yang menghasilkan lulusan tersertifikasi, berkesempatan mendapatkan insentif tadi.”

Dalam praktiknya, dual system melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran teori sebanyak 30 persen dan 70 persen berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait.

 

Dukungan Sinar Mas dalam pengembangan pendidikan vokasi, diantaranya tampak saat tanggal 16 Mei silam di Lausanne, Swiss – disaksikan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Delegasi Eka Tjipta Foundation mendampingi perwakilan Politeknik Sinar Mas Berau menandatangani MoU bersama Swiss International Technical Connection (SITECO). Tak ketinggalan, Institut Teknologi dan Sains Bandung juga melakukan kemitraan bersama SITECO.

Sulistiyanto mengatakan, para mitra tersebut tengah melakukan kajian dan penilaian di program studi Teknologi Pengolahan Sawit, Fakultas Vokasi ITSB dan seluruh program studi yang dinaungi Poltek Simas Berau Coal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.