Jadikan Membaca Buku sebagai Hadiah Hari Anak Nasional

Kompas.com - 23/07/2019, 17:35 WIB
Kegiatan membacakan buku cerita untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang dilakukan oleh Reading Bugs dan tim relawan Read Aloud, Selasa (23/7/2019). Dokumentasi pribadi/Roosie SetiawanKegiatan membacakan buku cerita untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang dilakukan oleh Reading Bugs dan tim relawan Read Aloud, Selasa (23/7/2019).

KOMPAS.com – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 dilakukan dalam berbagai bentuk. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memusatkan peringatan HAN 2019, Selasa (23/7/2019), di Lapangan Karebosi, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Tema besar HAN 2019 adalah “Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak” dengan tagline “Kita Anak Indonesia, Kita Gembira! #KitaGembira”. Tujuannya untuk mengajak semua warga Indonesia merayakan dan merenungkan kembali tentang perlindungan anak dalam keluarga.

Pada hari spesial untuk anak ini, sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian khusus dari orangtua. Perhatian itu tidak harus berupa hadiah yang mahal atau melakukan sesuatu yang sulit. Mulailah dari hal yang sederhana, misalnya mengajak anak untuk membaca buku bersama-sama.

Pengalaman menyenangkan

Menurut Roosie Setiawan, pendiri "Reading Bugs", membaca buku bersama anak dapat dilakukan secara nyaring dan itu bisa menjadi hadiah yang terindah bagi seorang anak, termasuk sehubungan dengan peringatan Hari Anak Nasional.

Baca juga: Hari Anak Nasional, KPAI Ingatkan Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Anak

“Membacakan nyaring merupakan hadiah terindah yang dapat diberikan untuk anak Indonesia,” kata Roosie saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/7/2019).

Dia berpendapat, melalui kegiatan membaca nyaring, anak akan mendapatkan pengalaman membaca menyenangkan dan membuat mereka mau membaca, kemudian bisa membaca, hingga akhirnya gemar membaca.

Terkait maraknya penggunaan teknologi komunikasi, misalnya berupa ponsel pintar dan tablet, yang membuat anak-anak menjadi kecanduan tentunya menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebab, hal itu bisa mengurangi minat membaca.

Maka dari itu, diperlukan usaha dari semua pihak, terutama orangtua dan keluarga, untuk memberi pengertian kepada anak-anak mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan terkait penggunaan ponsel itu.

Buku cetak dan elektronik

“Khawatir sudah pasti, tetapi produk teknologi tidak bisa diperangi, anak-anak membutuhkannya. Usaha orangtua untuk mengatur jadwal penggunaan gadget lebih diperlukan dan memilih program-program yang dapat mengembangkan kecerdasan anak,” imbuh Roosie.

Untuk mengatasi hal itu, sambungnya, orangtua harus memberikan pengalaman membaca menyenangkan kepada anak-anak, yaitu melalui buku cetak dan buku elektronik yang akan menjadi bekal untuk masa depan mereka.

Sehubungan dengan Hari Anak Nasional 2019, Roosie menuturkan pihaknya melakukan kegiatan membacakan buku cerita untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang dilakukan pada hari ini bersama tim relawan "Read Aloud".

Kegiatan itu bertujuan untuk mengampanyekan gerakan gemar membaca kepada orangtua agar mau mengajak dan mendampingi anak-anak mereka untuk selalu membaca buku bersama.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tertarik Jadi Dosen? CPNS 2019 Kemendikbud Buka 1.891 Formasi

Tertarik Jadi Dosen? CPNS 2019 Kemendikbud Buka 1.891 Formasi

Edukasi
Angkie Yudistia, Staf Khusus Jokowi, Kisah Titik Bangkit di Kampus dan Perjuangan yang Belum Selesai

Angkie Yudistia, Staf Khusus Jokowi, Kisah Titik Bangkit di Kampus dan Perjuangan yang Belum Selesai

Edukasi
'Link and Match' Pendidikan-Industri Butuh Perencanaan dan Penyesuaian Kurikulum

"Link and Match" Pendidikan-Industri Butuh Perencanaan dan Penyesuaian Kurikulum

Edukasi
Krisis Dunia Pendidikan, Satu Pesan dari Bank Dunia...

Krisis Dunia Pendidikan, Satu Pesan dari Bank Dunia...

Edukasi
Pasar Digital Kian Menjanjikan, Binus Malang Kini Fokus Ciptakan Entreprenuer Berbasis Digital

Pasar Digital Kian Menjanjikan, Binus Malang Kini Fokus Ciptakan Entreprenuer Berbasis Digital

BrandzView
LP3I: Kompetensi dan Adaptasi Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Vokasi

LP3I: Kompetensi dan Adaptasi Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Vokasi

Edukasi
'We The Teacher': Infrastruktur dan Materi Pembelajaran Masih Jadi Kendala di Daerah 3T

"We The Teacher": Infrastruktur dan Materi Pembelajaran Masih Jadi Kendala di Daerah 3T

Edukasi
Kompasianival 2019: Ngomongin Podcast hingga Peluang Join KG Media

Kompasianival 2019: Ngomongin Podcast hingga Peluang Join KG Media

Edukasi
Daftar Lengkap 100 Universitas Terbaik Kinerja Penelitian, Berapa Peringkat Kampusmu?

Daftar Lengkap 100 Universitas Terbaik Kinerja Penelitian, Berapa Peringkat Kampusmu?

Edukasi
5 Modul Latihan TKD CPNS 2019 Paling Banyak Dicari

5 Modul Latihan TKD CPNS 2019 Paling Banyak Dicari

Edukasi
Sepertiga Anak Usia 10 Tahun Indonesia Tak Mampu Baca dan Pahami Cerita Sederhana

Sepertiga Anak Usia 10 Tahun Indonesia Tak Mampu Baca dan Pahami Cerita Sederhana

Edukasi
Menristek: Jumlah Pengelolaan Dana Riset Ditentukan Penilaian Kinerja

Menristek: Jumlah Pengelolaan Dana Riset Ditentukan Penilaian Kinerja

Edukasi
47 Universitas Terbaik Bidang Penelitian Versi Kemenristek

47 Universitas Terbaik Bidang Penelitian Versi Kemenristek

Edukasi
Berdayakan Guru, Zenius dan We The Teachers Distribusikan Materi Belajar Digital Gratis

Berdayakan Guru, Zenius dan We The Teachers Distribusikan Materi Belajar Digital Gratis

Edukasi
Benarkah Peran Guru Tidak Akan Terganti pada Era Revolusi Industri 4.0?

Benarkah Peran Guru Tidak Akan Terganti pada Era Revolusi Industri 4.0?

Edukasi
Close Ads X