Hadirkan Kegembiraan, ISI Yogyakarta Gelar Konser Musik Anak

Kompas.com - 07/08/2019, 20:37 WIB
Orkestra Mahasiswa ISI Yogyakarta. DOK. ISI YOGYAKARTA/IWAN DANIOrkestra Mahasiswa ISI Yogyakarta.

KOMPAS.com - Setiap anak adalah musikal, demikian Prof. Patricia Campbell menulis dalam bukunya “Music in Childhood”. Setiap anak diciptakan dengan kemampuan musikal dan responsif terhadap musik.

Musik adalah bagian dari kehidupan anak dan musik penting bagi perkembangan anak. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa musik dapat memberi pengaruh positif terhadap kecerdasan anak.

Itulah yang ditegaskan Prof. Djohan A. Salim, Direktur Program Pascasarjana ISI Yogyakarta dalam sambutan tertulis yang dibacakan Fortunata, Ketua Program Doktor ISI Yogyakarta saat membuka Ascoltate ke-28 bertema “Music Makes Us Happy”.

"Program Ascoltate merupakan program konser musik dwi bulanan yang diadakan Program Pascasarjana ISI dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat akan musik yang berkualitas," jelas Iwan S. Dani dari pascasarjana ISI Yogyakarta melalui rilis yang diterima Kompas.com.

Sambut Hari Anak Nasional

Iwan menjelaskan pengisi acara ini merupakan musisi-musisi pasca terampil yang dikurasi secara ketat tim kurator ISI Yogyakarta yang terdiri dari dosen-dosen musik.

Namun khusus dalam penyelenggaran ke-28 ini karena berdekatan dengan Hari Anak Nasional (23 Juli), Ascoltate diisi dengan penampilan musik dari siswa-siswa SD dan SMP.

Baca juga: ISI Yogyakarta Hadirkan Kelompok Musik Kontemporer Vietnam

Beberapa penampil dari kalangan anak-anak pada konser Sabtu, 27 Juli 2019 lalu, antara lain: 

1. SD Kanisius Jomegatan yang menampilkan musik kreatif. Alat musik yang mereka mainkan bukan alat musik biasa namun mereka membuat alat musik sendiri yang terbuat dari botol gelas, sampu lidi, pipa PVC, gelas dan lainnya.

2. Kemudian ada ensembel musik gesek dari SMP Eksperimental Mangunan dan duet cello dari sekolah yang sama.

3. Selanjutnya ada paduan suara anak Cantare yang pernah mendapat juara dalam Pesta Paduan Suara Rohani tingkat Provinsi.

4. Dan musik tradisional Jawa diwakili oleh tim karawitan dari SD Eksperimental Mangunan.

Musik program penting sekolah

Tim Karawitan SD Eksperimental Mangunan YogyakartaDOK. ISI YOGYAKARTA/IWAN DANI Tim Karawitan SD Eksperimental Mangunan Yogyakarta

Di sekolah-sekolah itulah musik mendapatkan perhatian khusus dari sekolah. Mereka sadar bahwa anak tidak hanya cukup dalam kecerdasan kognisi namun harus cerdas pula dalam hal rasa dan keindahan.

"Dan itu hanya bisa terjadi jika anak bersentuhan dengan seni seperti seni musik," ujar Romo (Pastor) Lambertus Limalettu yang menjadi pembimbing di SD Kanisius Jomegatan.

Menurut Romo Lambertus, musik menjadi salah satu pelajaran penting di sekolah. Mereka memiliki program rutin karawitan dan paduan suara anak.

Oleh karena itu pihak sekolah sangat mendukung ketika SD Kanisius Jomegatan mengikuti Lomba Musik Kreatif tingkat Provinsi DIY tahun 2019 yang diselenggarakan oleh ISI Yogyakarta sehingga mereka merebut Juara I dan Juara II.

Dongeng dalam musikalisasi

Selain anak-anak SD dan SMP, konser malam itu melibatkan pula orkestra mahasiswa ISI Yogyakarta Jurusan Penyajian Musik yang membawakan repetoire karya Sergei Prokofiev : “Peter dan Serigala”.

Repetoire ini adalah sebuah cerita anak yang dibacakan dan divisualisasikan dengan musik. Di dalam cerita itu tokoh-tokohnya diwakili oleh bunyi-bunyian. Misalkan tokoh Peter diwakili dengan suara ensembel musik gesek, burung diwakili dengan suara flute, bebek dengan suara oboe.

Melalui konser ini diharapkan anak-anak yang hadir dapat terinspirasi dan melihat langsung bagaimana sebuah orkes musik menyajikan musik klasik yang bercerita. Melalui repertoire ini, anak-anak diajak berimajinasi tentang kisah Peter menangkap seekor serigala.

Bergembira lewat musik

PS Anak Cantare Kalasan YogyakartaDOK. ISI YOGYAKARTA/IWAN DANI PS Anak Cantare Kalasan Yogyakarta

Asep Hidayat, kurator sekaligus penggagas acara Ascoltate mengatakan, "Selama ini kita lupa dengan anak-anak. Kita lupa bahwa anak-anak juga perlu musik, mereka harus diperkenalkan dengan musik."

Pada Ascoltate ke-28 ini untuk pertama kalinya panggung Pascasarjana ISI ‘dikuasai’ anak-anak. Sambutan positif juga dikemukakan oleh orangtua yang anaknya terlibat dalam konser malam itu.

Salah satunya, Bernadeta Kusumastuti menilai bahwa acara ini sangat baik bagi anak-anak dan menginspirasi anak-anak. Melalui acara ini anak-anak bisa mengetahui bahwa ternyata ada banyak alat musik yang memiliki bunyi yang khas. Mereka sangat senang bisa ikut terlibat.

Demikianlah pada malam itu musik kembali menyapa anak-anak dan membuat mereka bergembira. Sesuai dengan thema Ascoltate ke-28 “Music Makes Us Happy”.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X