Simposium Diaspora Siap Digelar, 2.500 Dosen dan Milenial Siap Hadir

Kompas.com - 13/08/2019, 09:00 WIB
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti dalam bincang bersama media terkait sosialisi Academic Leader Awards 2019 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta (20/5/2019). Dok. Direktorat SDIDDirektur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti dalam bincang bersama media terkait sosialisi Academic Leader Awards 2019 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta (20/5/2019).

KOMPAS.com - Sebanyak 55 ilmuwan diaspora akan diundang pulang ke Tanah Air mengikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti.

Rangkaian acara akan digelar selama sepekan, yakni dari 18-24 Agustus di Jakarta. Lebih dari 2.500 peserta telah mendaftar untuk bertemu dengan para anak bangsa yang telah sukses meniti karier sebagai akademisi di luar negeri tersebut.

Kehadiran ilmuwan luar negeri sendiri memang selalu menjadi daya tarik bagi para akademisi Tanah Air, terutama dalam menjajaki kolaborasi riset.

Tahun ini, Kemenristekdikti juga membuka peluang bagi perguruan tinggi negeri dan swasta, bahkan perguruan tinggi di bawah koordinasi kementerian lain untuk ikut serta dalam memberdayakan talenta yang dimiliki ilmuwan diaspora.

Dilansir dari rilis resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, sebanyak 65 perguruan tinggi di berbagai daerah mengusulkan diri untuk didatangi ilmuwan diaspora.

Baca juga: Membangun Kekuatan Indonesia dari Dunia lewat Diaspora

Jembatan ke luar negeri

"Antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan SCKD 2019 ini memang meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena momentum acara bertepatan dengan tahun pembangunan sumber daya manusia yang kini sedang diprioritaskan oleh Pemerintah," ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti, Jumat (9/8/2019).

Dirjen Ghufron menyebut, target peserta sebelumnya hanya sekira 500 orang. Namun setelah dibuka pendaftaran secara online melalui laman diaspora.ristekdikti.go.id dalam kurun waktu kurang dari seminggu pendaftar telah mencapai 2.500 orang lebih.

Tak sedikit pendaftar yang berprofesi di luar akademisi. Bahkan, para millennial pun tertarik mengikuti kegiatan yang bersifat ilmiah ini. Tekait hal tersebut, nantinya para pendaftar akan diseleksi dengan mempertimbangkan ketertarikan bidang keilmuannya.

Di sisi lain, Dirjen Ghufron menyampaikan bahwa beberapa ilmuwan diaspora yang diundang adalah mahasiswa post doctoral yang masih muda, tetapi sudah memiliki berbagai pengalaman di bidang keahliannya.

Terdapat pula ilmuwan diaspora yang usianya di bawah 40 tahun, namun telah memiliki jenjang karier yang menjanjikan di institusi tempatnya bekerja.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X