Membuka Ruang Kesetaraan Disabilitas lewat Program Tandem Profesional

Kompas.com - 14/08/2019, 18:56 WIB
Diskusi publik Merayakan Disabilitas Menuju Indonesia Maju, yang digelar Yayasan Helping Hands pada Rabu, 14 Agustus 2019 di Ruang Komunal Indonesia from Facebook, Jakarta. DOK. YAYASAN HELPING HANDSDiskusi publik Merayakan Disabilitas Menuju Indonesia Maju, yang digelar Yayasan Helping Hands pada Rabu, 14 Agustus 2019 di Ruang Komunal Indonesia from Facebook, Jakarta.

KOMPAS.com - Penyandang disabilitas Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan formal. Sebuah temuan di tahun 2018 mengungkapkan baru sekitar 1,2 persen penyandang disabilitas berhasil masuk di sektor tenaga kerja formal.

Padahal, UU No. 8 Tahun 2016 mewajibkan Perusahaan Swasta mempekerjakan paling sedikit 1 persen, Pemerintah, Pemda, BUMN dan BUMD mempekerjakan paling sedikit 2 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai.

Isu disabilitas ini mengemuka dalam diskusi "Merayakan Disabilitas Menuju Indonesia Maju", yang digelar Yayasan Helping Hands pada Rabu, 14 Agustus 2019 di Ruang Komunal Indonesia from Facebook, Jakarta.

Slogan "Disabilitas Bukan Halangan", yang diusung Yayasan Helping Hands sejak awal berdiri dimaknai para pendiri Yayasan sebagai sebuah keyakinan, bahwa disabilitas bukan halangan untuk maju, dan bukan halangan untuk maju bersama.

Memberi kesempatan berkarya

“Kami berharap acara tema 'Merayakan Disabilitas Menuju Indonesia Maju' ini akan menjadi jembatan komunikasi yang dapat menyuarakan seruan untuk berjalan bersama antara teman-teman penyandang disabilitas dengan nondisabilitas," ujar Wendy Kusumowidagdo, Direktur Eksekutif Yayasan Helping Hands.

Baca juga: Menjawab Soal Kesetaraan Jender dan Disabilitas lewat Regulasi dan Pendidikan

Harapannya, nantinya akan membuka kesempatan luas bagi penyandang disabilitas untuk hidup dan berkarya di berbagai bidang yang mereka harapkan.

“Dengan orang lebih mengenal difabel, memahami kemampuan, kelemahan, kebutuhan, kesamaan, perbedaan, kami berharap ia akan lebih mau berupaya memberi dampak bagi komunitas difabel,” papar Willy Suwandi Dharma, salah satu pendiri Yayasan Helping Hands.

Dalam membangun jembatan kesetaraan dan kebersamaan, Yayasan Helping Hands menggunakan metode program berbasis empat elemen: Edukatif, Inklusif, Partisipatif dan Eksperensial.

Keempat elemen tersebut selanjutnya diwujudkan dalam 3 pilar program utama meliputi Pendidikan Alam, Pendidikan Olah Raga dan Pengalaman Profesional.

Tandem program profesional

"Melalui ketiga pilar program, kita berupaya menyatukan anak muda disabilitas dan nondisabilitas dalam berbagai pelatihan nonformal. Melalui pelatihan bersama itu mereka akan saling berinteraksi sekaligus meresapi nilai-nilai toleransi, empati, kepemimpinan dan kerja sama yang akan membuka ruang kebersamaan lebih luas lagi ke depannya,” jelas Wendy.

Wendy menjelaskan, melalui program Pengalaman Profesional bertajuk Leadership Inclusive Taining (LIT), Yayasan Helping Hands membawa siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) ke berbagai perusahaan untuk merasakan pengalaman pelatihan bersama pekerja professional .

“Yang unik, di dalam program LIT, setiap anak disabilitas akan ditandem dengan seorang karyawan dari perusahaan partisipan. Dengan begitu kedua pihak akan terlibat dalam interaksi mendalam. Dengan begitu anak-anak dapat bertambah wawasan, dan dapat membekali diri dengan keterampilan dan pengetahuan yang tepat pula,” jelas Wendy.

Salah satu program LIT akan dijalankan bersama Bank BCA 20 Agustus mendatang. Sebanyak 15 anak tunanetra akan diajak ke fasilitas unit kerja Halo BCA di BSD, Tangerang.

Membuka ruang kesetaraan

 

“Nantinya, 15 anak itu akan ditandem dengan 15 karyawan BCA dalam sebuah pairing program, 3-4 jam. Kami harap melalui program tersebut di sisi anak disabilitas akan menumbuhkan kepercayaan diri untuk berinteraksi dan berkarya di dunia professional," terang Wendy.

Sementara di sisi karyawan, jelas Wendy, akan menumbuhkan empati yang diharapkan akan dapat memperluas wawasan agar lebih inklusif dan ramah disabilitas. "Siapa tahu juga dapat membuka ruang kesempatan bekerja bersama lebih lanjut dengan penyandang disabilitas di perusahaan,” terang Wendy.

Yayasan Helping Hands pun berharap, ke depannya akan lebih banyak pihak lagi yang bisa berjalan bersama mereka untuk membuka ruang kesetaraan bagi penyandang disabilitas.

"Tujuan ini semua adalah agar terbangun pemahaman dan empati dari kedua sisi, dan agar dapat dimulai aksi-aksi kecil maupun besar yang dapat memberi dampak positif di dalam masyarakat,” tutup Willy.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X