Menjawab Soal Kesetaraan Jender dan Disabilitas lewat Regulasi dan Pendidikan

Kompas.com - 07/08/2019, 19:50 WIB
Diskusi publik bertema Pendekatan Gender dan Disabilitas dalam Legalisasi Bidang Ketenagakerjaan yang digelar di Gedung DPR, Jakarta (7/8/2019).DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGAR Diskusi publik bertema Pendekatan Gender dan Disabilitas dalam Legalisasi Bidang Ketenagakerjaan yang digelar di Gedung DPR, Jakarta (7/8/2019).

KOMPAS.com - Soal kesetaraan hak penyandang disabilitas dan perempuan dalam dunia pendidikan dan pekerjaan masih menjadi tantangan besar di tengah upaya Presiden Joko Widodo fokus pada penguatan SDM di periode ke-2 pemerintahannya.

Isu sentral ini mengemuka dalam diskusi publik bertema "Pendekatan Gender dan Disabilitas dalam Legalisasi Bidang Ketenagakerjaan" yang digelar di Gedung DPR, Jakarta (7/8/2019).

Data BPS, Agustus 2016 menyebutkan penduduk usia kerja Indonesia mencapai 189.096.722 juta orang, diantaranya sebanyak 22.563.392 orang penduduk usia kerja yang memiliki gangguan atau disabilitas terdiri dari laki-laki 10.333.806 orang dan perempuan 12.229.586 orang.

Itu artinya, total penduduk usia kerja yang memiliki gangguan atau disabilitas adalah hampir 4 kali penduduk Singapura.

Hak -hak pekerja perempuan pun masih belum dipenuhi, baik untuk pekerjaan formal maupun untuk pekerjaan informal. 

Baca juga: Penyandang Disabilitas Punya Kesempatan Raih Pendidikan Tinggi

Meski prosentase angkatan kerja perempuan meningkat 0,04 persen dari tahun sebelumnya, namun tetap masih belum setara dengan jumlah angkatan pekerja laki-laki yang berada di angka 83,01 persen.

Hal itu menyebabkan mayoritas perempuan tidak berpenghasilan dan menyumbang sebagian besar angka kemiskinan di Indonesia. Bahkan, banyak laporan penelitian menyebutkan bahwa banyak pekerja perempuan mengalami diskriminasi secara fisik, psikis dan kekerasan seksual.

Pendidikan jadi muara

Dalam diskusi mengemuka, tingkat pendidikan perempuan yang rendah berdampak pada jenis pekerjaan yang diserap oleh buruh perempuan. Data Susenas 2015 menyebutkan 60 persen angkatan kerja Indonesia berpendidikan di bawah SMA dan separuhnya adalah perempuan. 

Sementara, persentase perempuan buta huruf masih sebanyak 4,39 persen, lebih tinggi dari laki-laki 2,92 persen. Padahal banyak dar buruh perempuan menjadi tulang punggung dan berperan besar pada kesejahteraan keluarganya.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X