Pidato Presiden: Pendidikan Harus Tanamkan Daya Pikir Kritis

Kompas.com - 16/08/2019, 14:02 WIB
Presiden Joko Widodo dengan baju adat suku Sasak NTB menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI dalam Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019). ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANPresiden Joko Widodo dengan baju adat suku Sasak NTB menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI dalam Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan beberapa hal harus ditanamkan dalam pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Dalam pendidikan dasar, anak-anak mesti diajarkan untuk mempunyai ke kebiasaan mandiri, percaya diri, gotong royong, dan saling peduli. Adapun dalam pendidikan menengah, anak-anak harus mendapatkan bekal untuk belajar sendiri, berpikir kritis, dan tidak mudah terhasut.

“Biasa mandiri, percaya diri, gotong royong, dan saling peduli harus kuat ditanamkan dalam pendidikan dasar kita. Mencari sumber belajar sendiri, berpikir kritis, dan tidak mudah terhasut, problem solving, harus sudah tertanam kuat pada pendidikan menengah kita,” ucap Jokowi dalam pidato kenegaraan, Jumat (16/8/2019).

Menurut dia, keluarga dan lembaga pendidikan mempunyai peran penting dalam pendidikan anak-anak yang harus ditanamkan sejak dini mengenai budi pekerti, sopan santun, toleransi, dan kedisiplinan, termasuk kebiasaan mengantre dengan sabar dan teratur.

Baca juga: Naskah Lengkap Pidato Tahunan 2019 Presiden Jokowi

Maka dari itu, pendidikan harus berakar pada budaya bangsa yang memperjuangkan kepentingan nasional dan tanggap terhadap perubahan dunia.

SDM berbudi pekerti luhur

Jokowi pun membahas bahwa Indonesia akan berada di puncak periode bonus demografi antara tahun 2020 hingga 2024. Memasuki periode tersebut, dia mengaku optimistis Indonesia mampu menghadapinya jika fokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Jika kita lebih fokus mengembangkan kualitas SDM dan menggunakan cara-cara baru maka
saya yakin bonus demografi menjadi bonus lompatan kemajuan,” ujarnya.

Dia mengatakan, kita harus mendukung lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan untuk melakukan pembenahan secara besar-besaran sehingga mampu menghadapi perubahan.

Sebab, dibutuhkan kualitas SDM yang tepat untuk menghadapi persaingan dunia yang semakin ketat dan disrupsi di berbagai bidang.

Disebutkan juga bahwa Indonesia membutuhkan SDM yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter kuat, serta SDM yang menguasai keterampilan dan menguasai ilmu pengetahuan masa kini dan masa depan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X