Skor PISA Rendah, Ini Usulan Sabda "Zenius" ke Presiden Jokowi

Kompas.com - 22/08/2019, 21:09 WIB
Sabda Putra Subekti, Co-founder dan CEO Zenius Education memenuhi undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara, Senin (19/8/2019). DOK. ZENIUS EDUCATIONSabda Putra Subekti, Co-founder dan CEO Zenius Education memenuhi undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara, Senin (19/8/2019).

KOMPAS.com - Tergabung dalam rombongan Inovator 4.0 yang dipimpinan Budiman Sudjatmiko, Sabda Putra Subekti, Co-founder dan CEO Zenius Education memenuhi undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara, Senin (19/8/2019).

Pertemuan tertutup tersebut membahas rencana pemerintah dalam membangun SDM Indonesia 5 tahun ke depan.

Menurut Sabda, pemerintah sangat terbuka dan memberikan dukungan sangat positif terhadap gerakan-gerakan inovatif dan industri kreatif untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia dengan bantuan teknologi.

 

“Pak Jokowi sangat antusias menanggapi perkembangan industri edtech. Beliau menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah satunya melalui pendidikan berbasis teknologi, dan kami sangat mengapresiasi hal tersebut," ujar Sabda.

Rendahnya literasi dan numerasi

Dengan adanya dukungan dan bantuan dari pemerintah, Sabda yakin upaya industri edtech untuk memberikan dampak sosial yang positif di masa depan dapat berjalan lebih efektif.

Baca juga: Pidato Presiden: Pendidikan Harus Tanamkan Daya Pikir Kritis

 

"Dengan bantuan teknologi, peningkatan kualitas manusia dapat dipercepat sepuluh hingga dua puluh kali lipat dengan cara yang efisien,” tegasnya.

Hal ini juga pernah ia sampaikan saat menjadi narasumber di Edtech Asia Summit di Singapura pada awal Agustus lalu.

Sabda yang juga merupakan ketua Indonesia Education Technology Association (INETA) bersama dengan Amanda Witdarmono, Chief of Education Initiatives Zenius Education menyatakan platform digital memudahkan akses perolehan dan peningkatan kemampuan pelajar serta orang dewasa.

Ia juga meyakini platform digital dapat memperbanyak pelatihan kejuruan berbasis industri yang bisa disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik.

"Tantangan yang ada terhadap pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya kemampuan literasi dan numerik yang tercermin dari skor PISA dan PIAAC dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar Sabda.

Memerhatikan konten edukasi

Kondisi ini dianggap ironis karena setelah Indonesia mampu mengembangkan ekonominya hingga menjadi bagian dari G20, kualitas pendidikannya masih tertinggal amat jauh dibandingkan negara-negara berkembang sekalipun.

Di sisi lain, menurut Sabda, kualitas pendidikan yang idealnya dihasilkan bukan saja hanya berfokus pada kemampuan kognisi para peserta didik yang berfokus pada penalaran dan pemikiran saintifik, namun juga peningkatan dalam aspek lainnya seperti empati, afeksi, dan toleransi.

“Dengan demikian, Indonesia tetap menjalani mandat dari para bapak bangsa bahwa pendidikan itu tidak hanya mempertajam wawasan, tetapi juga memperhalus perasaan,” ujarnya.

“Penting sekali bagi setiap pelaku industri pendidikan untuk tidak hanya mengutamakan akses, namun juga memerhatikan konten edukasi yang dikembangkan. Pada dasarnya, education technology itu dimulai dengan education, pendidikannya, baru teknologinya,” tegas Sabda.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X