Kompas.com - 24/08/2019, 09:06 WIB
Ilustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) DOK. CRIBSIlustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS)

KOMPAS.com - Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia hubungan sains dan agama tidak selalu harmonis dan beriringan. Banyak orang menganggap sains dan agama adalah dua kutub saling bertentangan satu dengan lainnya.

Namun, Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS), Bogor, Jawa Barat justru menjadikan kekuatan sains dan agama sebagai core atau pusat dalam penguatan pendidikan akademis dan pendidikan karakter akhlak untuk siswa mereka.  

"Pendidikan di sekolah kami, seluruhnya core sains dan agama. Kita buat semacam balancing. Selama ini orang beranggapan sains dan agama saling balapan. Kita bisa imbangkan. Agama perlu pengetahuan dan sains perlu agama," ujar Ari Rosandi, General Manager Cahaya Rancamaya Boarding School.

Integrasi dua hal ini diyakini akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis namun juga memiliki karakter yang baik sehingga mampu bersaing secara global.

Integrasi akal dan kalbu

Salah satu upaya penguatan dua hal tersebut di sekolah yang telah berdiri selama 5 tahun ini dilakukan dengan mengintegrasikan penguatan moral dalam setiap pembelajaran mata pelajaran di kelas.

"Penguatannya dilakukan dalam setiap pelajaran harus ada pesan moral. Jangan sampai anak-anak fokus pada sains tanpa backgorund atau filter agama. Anak dijelaskan ada campur tangan Tuhan di sana dan dalam segala sesuatu di dunia ini sehingga mereka bisa tahu sains tidak berdiri sendiri," jelas Ari,

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ari menambahkan, "Pola pendidikan holistik dan integrasi ini memadukan akal dan kalbu. Jangan hanya akal, iman dan kalbu ketinggalan. Tapi juga jangan pula sebaliknya. Ini yang menyebabkan banyak muncul paham-paham berbahaya. Tanpa akal dan kalbu sulit untuk beriman."

Dengan menganut sistem pendidikan asrama atau boarding school, sekolah ini memiliki kesempatan lebih banyak untuk menguatkan kedua nilai tersebut dalam proses pembelajaran sehari hari.

Selama 8 jam siswa menjalankan pendidikan formal seperti siswa pada umumnya dan selebihnya mereka berkesempatan belajar mandiri, kajian Al-Quran dan juga Hadist. "Hampir 95 persen siswa boarding sisanya pulang pergi di wilayah Bogor," kata Ari.

Penguatan akhlak

SMP dan SMA CRIBS mengembangkan pendidikan karakter di sekolah melalui berbagai macam program dan kegiatan; Tausyiah, Tahsin dan Tahfidz serta Kajian Al-Quran dan Hadist.

Baca juga: Pendidikan Karakter Sekolah Menentukan Nasib Bangsa

"Program Tahfidz atau hafalan Al-Quran disesuaikan dengan kemampuan menghafal masing–masing siswa dan diharapkan selama 3 tahun di sekolah. "Jadi biasanya saat awal sekolah orangtua dan sekolah berdiskusi target jumlah hafalan yang diharapkan dicapai siswa di kemudian hari," kata Ari.

Ari juga menyampaikan pihaknya mengadakan 3 kali tausyiah yaitu setelah sholat Subuh, Dzuhur dan Isya dan diisi oleh para siswa sebagai sarana menyampaikan ilmu yang didapatkan di sekolah dan asrama.

Hal ini sekaligus bertujuan melatih kemampuan siswa berbicara di depan umum dan melatih kepercayaan diri.

Program bahasa Arab juga menjadi salah satu bahasa internasional yang berlaku di sekolah yang menempati area seluas 1,2 hektar ini baik melalui Pelajaran Agama Islam, Pelajaran Bahasa Arab maupun kegiatan ekstrakulikuler sekolah.

Konsep kebangsaan

Ilustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) BogorDOK. CRIBS Ilustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) Bogor

"Konsep Islam yang kami tawarkan ke anak-anak adalah Islam sebagai rahmatan rahmatan lil aalaamien, Islam pembawa rahmat, kesejahteraan dan kedamaian di seluruh alam karenanya konsep kebangsan menjadi harga mati yang diajarkan ke anak-anak," ujar Ari.

Ari menambahkan, "NKRI adalah darah mereka, itu yang mereka harus sampaikan, orangtua tidak ada kekuatiran. Untuk guru dan siswa kami tidak pernah membedakan dari aliran maupun paham mana mereka berasal. Justru yang kami deteksi sejak dini adalah radikalisme."

Penanaman nilai kebangsaan, tambah Ari dilakukan dalam berbagai program sekolah mulai dari upacara bendera, apel pagi dan juga berbagai seminar termasuk seminar bahaya radikalisme yang rutin digelar setiap tahun.

"Kami selalu tanamkan pada siswa bahwa cinta kepada bangsa dan negara adalah bagian dari iman," tegas Ari.

Penguatan Sains

Ilustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) BogorDOK. CRIBS Ilustrasi. Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) Bogor

Sekolah yang baru memasuki tahun ke 5 ini telah mampu memperoleh akreditasi A dan juga menorehkan prestasi di ajang nasional. Tiga siswa SMP dan SMA CRIBS berhasil meraih prestasi tahun ini di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk bidang Sains, Matematika dan Komputer.

"Dua siswa kami juga masuk dalam pelatnas sains nasional sekaligus mendapatkan penghargaan dari dinas pendidikan dan walikota Bogor atas prestasi mereka ini," cerita Ari.

Walikota Bogor Bima Arya secara khusus memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih siswa yang mampu unjuk prestasi mewakili Bogor di tingkat nasional. "Mereka adalah bibit-bibit yang luar biasa dan tinggal bagaimana kita bersama-sama merawat prestasi dan semangat mereka," pesan Arya.

"Kami memiliki koordinator khusus olimpiade dan proyek penelitian. Sayangnya Indonesia masih kurang buku-buku sains bermutu tinggi sehingga dalam pembelajaran sains dan matematika kami menggunakan tambahan bahan dan buku dari cambridge," ujarnya.

Selain itu, guru-guru sebagai ujung tombak kurikulum kami terus didorong meningkatkan kompetensi," ujar GM CRIBS. 

Ari juga menyampaikan pihaknya terus melakukan evaluasi, memberikan pendampingan, serta pelatihan rutin di mana guru dapat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, metode pembelajaran terbaru serta bagaimana menangani siswa.

Pelibatan aktif orangtua

Peran guru, konselor, asrama dan peran orangtua menjadi core utama pembentukan karakter dan akademik di CRIBS.

Peran serta orangtua dalam optimalisasi prestasi siswa menjadi hal yang dipandang penting meski CRIBS mengadopsi sistem sekolah berasrama.

"Sekolah wajib melakukan parent visit minimal setahun sekali untuk orangtua, sekalipun orangtua berada di luar Jawa. Kunjungan ke orangtua ini bukan untuk membahas masalah akademik melainkan untuk melihat bagaimana orangtua mendidik dan mendampingi anak di rumah," jelas Ari.

Dari sini pihak sekolah akan memperoleh strategi bagaimana melakukan pendekatan pada anak anak dan mengembangkan pendidikan karakter yang tepat untuk setiap siswa. 

"Orangtua dapat 24 jam menghubungi pembina asrama. Kami juga memiliki Fathers Club dan Mothers CLub di mana orangtua dapat meluangkan waktu antara anak dan orangtua dan juga sekolah," katanya. 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.