Kompas.com - 26/08/2019, 17:22 WIB
Pembukaan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Jumat (23/8/2019). KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAPembukaan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Kebijakan berbasis bukti data

Dia mengharapkan jalinan kerja sama yang semakin baik ini bisa bertambah erat dan berkualitas demi mencapai cita-cita bangsa untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul Indonesia maju.

Untuk diketahui, rangkaian acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 bertema "Bangkit dan Bersinergi" yang digelar oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah berlangsung pada 18-25 Agustus 2019 di Jakarta.

Perhelatan itu menghadirkan para ilmuwan diaspora yang selama ini tersebar di berbagai negara untuk membagikan ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing sebagai ilmuwan yang bekerja di luar negeri.

Kehadiran mereka diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia, termasuk dalam akselerasi dan transfer keilmuan, serta pengembangan dalam penelitian yang berguna agar mendapatkan hasil yang bermanfaat bagi negara.

Dalam paparannya, ilmuwan diaspora bernama Bagus Putra Muljadi yang sekarang menjadi asisten profesor di Departemen Teknik Kimia dan Lingkungan, University of Nottingham, mengatakan, seiring dengan perkembangan zaman, para ilmuwan diaspora menginginkan supaya pemerintah menghasilkan kebijakan yang berdasarkan pada bukti dan melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi.

“Kami rindu agar kebijakan negara ini bersandar pada evidence, didasari fakta. Kami ingin agar universitas-universitas di negeri ini jadi mercusuar penggerak bangsa dan jadi ujung tombak pengembangan teknologi mutakhir,” ujar Bagus.

Kuasai teknologi dan kolaborasi

Dia menuturkan, ilmuwan diaspora juga harus dilibatkan karena memiliki sumber daya yang mumpuni, bahkan sangat dihormati dan berpengaruh di negara tempat mereka berkarya selama bertahun-tahun.

Sebagai contoh, Hutomo Suryo Wasisto yang memimpin kelompok riset besar di Technische Universitat Braunschweig, Jerman. Ada pula Sastia Prama Putri, asisten profesor di Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik, Osaka University, yang berjuang di tengah dominasi ilmuwan pria di sana.

“Di sini hadir para diaspora yang sangat berpengaruh di negara masing-masing tempatnya bekerja. Mereka masih muda dan sangat dihormati,” imbuh Bagus.

Dia menjelaskan, saat ini telah terjadi perubahan dari sistem perekonomian berbasis bahan baku menjadi sistem yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam transisinya, sangat penting bagi sumber daya manusia Indonesia untuk menguasai teknologi, mengembangkan jaringan internasional, dan melakukan kolaborasi.

Menurut Bagus, simposium ini menjadi ajang untuk membangun kembali persahabatan dengan saudara-saudara di Tanah Air yang bertahun-tahun kurang terjalin baik.

“Kami merasakan kehadiran negara dalam kehidupan. Dulu gedung-gedung negara terasa dingin dan tidak terjangkau, sekarang kami sudah dikunjungi. Simposium ini bukan hanya ingar-bingar hingga larut malam, layaknya kembang api. Ini adalah upaya untuk meningkatkan iklim akademis bangsa,” jelasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X