3 Tantangan Pendidikan Era Disrupsi Teknologi, Apa Saja?

Kompas.com - 03/09/2019, 15:39 WIB
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno dalam simposium internasional tentang pendidikan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/9/2019). KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAKepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno dalam simposium internasional tentang pendidikan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

KOMPAS.com – Era disrupsi teknologi yang semakin maju sekarang ini memengaruhi berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Semua pihak yang terlibat, termasuk guru dan murid, diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Mereka dihadapkan pada masa yang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi, analitis, di luar dari rutinitas, dan tidak manual yang hanya mengikuti kebiasaan yang ada selama ini.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) Totok Suprayitno, ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku pendidikan saat ini.

1. Kurikulum

Ini merupakan pegangan sebagai bekal kegiatan belajar anak-anak di sekolah. Selama ini Indonesia mempunya tradisi mengganti kurikulum setiap 10 tahun, padahal perubahan dunia terjadi setiap hari.

Baca juga: Ratusan SMA di Jateng Berminat Terapkan Kurikulum Antikorupsi

“Harus dipikirkan caranya membentuk kurikulum yang bisa beradaptasi, ini mendisrupsi kebiasaan yang ada selama ini. Mungkin lebih baik secara bertahap sehingga polanya mengikuti perkembangan zaman,” ujar Totok Suprayitno dalam simposium internasional tentang pendidikan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Melalui kurikulum itu, kita ditantang untuk menyiapkan anak-anak yang bisa mempunyai pemikiran antisipatif, kritis, analitis, kreatif dalam memecahkan masalah, berinovasi, dan memiliki karakter yang bisa beradaptasi untuk hal-hal baru yang tidak terduga.

“Karakter itu akan membekali anak-anak kita agar bisa hidup dalam zaman yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian, tapi pada saat yang sama penuh dengan kesempatan,” imbuhnya.

2. Pembelajaran

Tantangan kedua, ucap Totok, yakni mengenai pengajaran atau penyampaian. Materi pelajaran yang bisa diajarkan oleh guru dengan mudah biasanya akan mudah pula digantikan dengan teknologi.

Kalau guru mengajar hanya menyampaikan materi yang tertulis di buku, maka tidak ada bedanya dengan internet. Bahkan informasi di internet jauh lebih banyak dan kaya, di mana anak-anak sekarang sudah bisa mencarinya sendiri tanpa bantuan guru.

Menurut dia, mengubah kebiasaan mengajar bukan persoalan mudah. Selama ini segala macam hal mengenai pengajaran diatur dari pemerintah pusat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X