Resmi Dibuka, IIBF 2019 Jadi Ajang Penguatan Literasi Indonesia

Kompas.com - 04/09/2019, 20:38 WIB
Toko Buku Gramedia sebagai salah satu peserta dalam Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 di Hall A Balai Sidang Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 4 sampai 8 September 2019. KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAToko Buku Gramedia sebagai salah satu peserta dalam Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 di Hall A Balai Sidang Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 4 sampai 8 September 2019.

IPP ini mendorong terjadinya transaksi antara penerbit Indonesia dan mancanegara. Dengan begitu, IIBF tidak hanya menjual buku dari penerbit kepada masyarakat, tetapi juga menjadi pusat transaksi hak cipta terjemahan dari penerbit lokal ke dunia internasional.

“Program itu diciptakan untuk meningkatkan transaksi hak cipta dengan memenuhi kebutuhan pelaku industri mancanegara,” ucapnya.

Ekspos literasi Indonesia

Selain itu, dalam rangkaian IIBF 2019, ada juga simposium yang telah digelar pada 3 September 2019 tentang pendidikan, pengaruh teknologi terhadap pendidikan saat ini, dan penggunaan hak cipta.

Simposium itu mendapat dukungan dari Kemendikbud dan Bekraf. Hadir sebagai pembicara antara lain dari Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association/IPA), Oxford University Press, akademisi Rhenald Khasali, dan mantan deputi World Intellectual Property Organization (WIPO) Chandra Darusman.

“Diskusi itu menjadi ajang pertemuan antara profesional penerbitan dan pakar dari mancanegara. Kehadiran IPA juga sebagai bagian dari rencana Jakarta sebagai World Book Capital City,” ungkap Rosidayati.

Senada dengan pernyataan itu, Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik menuturkan, Indonesia sedang mengalami pertumbuhan di industri literasi dunia sejak terciptanya momentum yang signifikan sebagai Guest of Honour dalam Frankfurt Book Fair 2015.

Kemudian menjadi Market Focus Country dalam London Book Fair 2019. Ini membuat industri literasi Indonesia semakin terekspos di peta dunia.

“Momentum ini harus dimanfaatkan dengan menjadi tuan rumah yang bagus dalam industri penerbitan. IIBF ini jadi upaya kita bersama untuk mengembangkan industri penerbitan dan perbukuan, serta kemajuan literasi Indonesia ke depan,” kata Ricky.

Dia mengharapkan, IIBF 2019 menjadi platform yang bisa mengantisipasi berbagai perubahan di dunia, di mana telah terjadi konvergensi dalam industri kreatif yang bertujuan menciptakan lebih banyak lagi nilai tambah bagi perekonomian kita.

“Saya harap IIBF ini jadi platform untuk mengedepankan konten-konten yang bisa dijodohkan dengan berbagai kesempatan di media lain. Usia 39 tahun sudah sangat panjang, kita tempatkan Indonesia semakin strategis di peta dunia. Semoga dari sini kita bisa tingkatkan lagi literasi di masa depan,” pungkasnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X