Kompas.com - 11/09/2019, 20:11 WIB
Hutomo Suryo Wasisto saat bertemu BJ Habibie. Dokumen pribadi Hutomo Suryo Wasisto Hutomo Suryo Wasisto saat bertemu BJ Habibie.
|
Editor Latief

Kemudian, masuk ke sekolah menengah atas di Yogyakarta, Ito berhasil terpilih menjadi siswa yang masuk kelas akselerasi. Hal itu membuatnya hanya menempuh studi selama dua tahun di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

"Ada program kelas akselerasi, saya coba-coba aja dan diterima. Dari ratusan siswa, yang diterima cuma tiga orang dan sekolahnya cuma dua tahun," kata pria kelahiran 7 September 1987 itu.

Setelah lulus SMA, dia pun melanjutkan studi di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro, Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus itu pun dia mampu menunjukkan menjadi lulusan yang terbaik.

Dia bisa menyelesaikan kuliah lebih kurang hanya 3,5 tahun dengan IPK 3,81 sekaligus keluar sebagai lulusan S1 tercepat dan terbaik, serta yang termuda karena lulus pada usia 20 tahun.

Kemudian, melanjutkan keinginan studi ke luar negeri dan sejalan dengan nasihat ayahnya yang menyarankan agar mencari pengalaman baru dengan merantau ke negara lain, Ito pun mencoba untuk memperoleh beasiswa. Jerman menjadi negara pilihannya, sesuai cita-citanya sejak kecil.

Dia juga mendaftar ke RWTH Aachen University, Jerman. Ini merupakan universitas untuk pengembangan teknologi melalui riset dan aplikasinya dalam dunia industri. Perguruan tinggi tersebut juga almamater BJ Habibie.

Namun, dia tidak diterima di kampus itu karena harus menyerahkan ijazah S1 sebagai syarat administratif, padahal ijazah dari UGM belum bisa langsung keluar sehingga harus menunggu selama satu semester.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Singkat cerita, Ito mendapat tawaran dari seorang profesor dari Taiwan untuk program kuliah master melalui pembiayaan dari perusahaan semikonduktor di sana. Dia memutuskan menerima tawaran itu dan akhirnya menempuh studi di Asia University, Taiwan.

Ito berhasil lulus dengan gelar Master of Engineering in Computer Science and Information Engineering. Dia pun tampil sebagai lulusan terbaik dengan meraih GPA 92 dan menyandang predikat Outstanding scholar of semiconductor engineering industry R and D master degree.

"Saya jadi lulusan terbaik, dapat master degree award. Itu kelas spesial yang menggabungkan industri dengan universitas. Masalah yang dihadapi di industri dilempar ke universitas," tuturnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.