Digitalisasi Naskah Kuno, Filolog Perlu Terlibat Aktif

Kompas.com - 18/09/2019, 08:08 WIB
Salah satu naskah kuno dalam bentuk digital yang dikembalikan Inggris ke Keraton Yogyakarta. Ini adalah Babad Jayalengkara. (Keraton Yogyakarta) Salah satu naskah kuno dalam bentuk digital yang dikembalikan Inggris ke Keraton Yogyakarta. Ini adalah Babad Jayalengkara. (Keraton Yogyakarta)


JAKARTA, KOMPAS.com
- Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menyambut baik adanya laman Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara) yang telah diluncurkan Perpustakaan Nasional awal tahun ini.

Laman tersebut, memudahkan masyarakat mengakses koleksi pustaka nusantara klasik yang berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Munawar Holil mengakui keberadaan laman membantu masyarakat yang membutuhkan akses naskah kuno.

“Dulu, orang yang ingin membaca naskah kuno mesti datang langsung ke Jakarta. Sekarang, sudah lebih mudah mengakses laman Khastara. Orang bisa membaca dari mana pun, tidak mesti datang ke Jakarta,” kata Munawar saat dihubungi, Selasa (17/9/2019) malam.

Baca juga: Perpusnas Luncurkan Khastara, Laman Koleksi Digital Naskah Lama

Namun demikian, Perpustakaan Nasional memang perlu melengkapi informasi terkait naskah lama yang menjadi koleksinya.

Pasalnya, bukan hanya masyarakat umum yang membutuhkan akses ke laman tersebut, melainkan juga peneliti bidang filologi.

Padahal, para peneliti membutuhkan informasi detail terkait kondisi fisik naskah, penulis atau penyalin naskah, maupun perkiraan waktu naskah kuno tersebut ditulis atau disalin.

Informasi lain yang juga dibutuhkan peneliti misalnya jenis kertas yang digunakan. Biasanya, ia menambahkan, kertas Eropa memiliki watermark khusus. Data-data rinci semacam itu, imbuh dia, perlu dilengkapi Perpustakaan Nasional.

“Belum semua naskah dilengkapi deskripsi fisik dan informasi lainnya terkait naskah seperti yang terdata dalam katalog naskah nusantara. Padahal, untuk peneliti informasi seperti itu sangat penting,” ujarnya.

Baca juga: Agar Naskah Kuno Lestari, Paradigma Perpustakaan Harus Bertransformasi

Kompas (3/1/2019) melansir, ada 8.989 koleksi yang terdapat pada web Khastara. Koleksi tersebut dibagi dalam enam kategori yaitu naskah kuno, buku langka, peta, foto, gambar dan lukisan, majalah dan surat kabar langka dan sumber lainnya.

Adapun koleksi naskah kuno terdiri dari 837 judul, sementara itu koleksi buku langka ada 144 judul, 1.548 judul untuk peta, 5.716 judul untuk foto, gambar dan lukisan, 79 majalah dan surat kabar langka, serta 663 judul untuk sumber lainnya.

Sebagai informasi, data yang diunggah ke dalam situs tersebut merupakan koleksi Perpustakaan Nasional yang digitalisasi sejak 2012. Sayangnya, pada 2016 data-data digital tersebut mengalami gangguan sehingga sebagian besar koleksi digitalnya menghilang.

Kualitas data belum optimal

Kualitas foto sebagai data visual web Khastara pun masih perlu ditingkatkan. Ia pun membandingkan dengan data visual yang dimiliki laman eap.bl.uk yang memiliki resolusi tinggi, sehingga kualitas foto akan tetap baik meski diperbesar.

Sebagai informasi, British Library memiliki Endangered Archives Programme (EAP) untuk melestarikan naskah-naskah kuno, utamanya di Asia dan Afrika.

Lewat program EAP, British Library membiayai digitalisasi naskah-naskah di kawasan Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Sejak 2006 hingga 2019, ia melanjutkan, ada 17 proyek digitalisasi naskah Indonesia yang mendapat bantuan program tersebut.

Salah satu naskah yang mendapat bantuan program adalah manukrip Pangeran Madrais yang menjadi koleksi Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan.

“Sejak jaman penjajahan Belanda, naskah itu memang tertutup untuk dunia luar. Barulah pada 2017, koleksi naskah yang merupakan warisan pendiri Sunda Wiwitan itu bisa dilakukan digitalisasi,” katanya.

Naskah kuno berisi ajaran Islam koleksi Museum Sonobudoyo. Teks itu unik karena disertai ilustrasi sementara seni rupa saat itu masih sangat tabu dalam islam.Monika Novena Naskah kuno berisi ajaran Islam koleksi Museum Sonobudoyo. Teks itu unik karena disertai ilustrasi sementara seni rupa saat itu masih sangat tabu dalam islam.

Data naskah yang dipublikasikan eap.bl.uk juga dilengkapi dengan metadata yang ringkas, seperti jumlah halaman, jenis huruf, bahasa yang digunakan, serta waktu penulisan atau penyalinan naskah.

Munawar Holil menambahkan, metadata koleksi laman Khastara memang perlu diperbaiki secara bertahap.

“Harus ditinjau lagi, web Khastara ini ditujukan untuk siapa. Bila untuk masyarakat umum ya sudah baik, tetapi kalau untuk penelitian akademis bidang filologi, ini belum memadai. Harus ditambah dan dilengkapi data-datanya,” katanya.

Menurut dia, Perpustakaan Nasional juga bisa menyajikan informasi yang serupa dengan eap.bl.uk bila mengacu pada kajian akademis. Untuk itu, para ahli filologi memang dibutuhkan untuk melakukan pendataan.

“Saya yakin Perpusnas bisa juga menayangkan data semacam itu. Sehingga, nantinya para peneliti bisa menjadikan naskah-naskah pada laman Khastara sebagai rujukan informasi,” katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Skor PISA 2018, Ari Widowati: 'Alarm Keras' untuk Segera Lakukan Perubahan

Skor PISA 2018, Ari Widowati: "Alarm Keras" untuk Segera Lakukan Perubahan

Edukasi
10 Tanggapan 'Mas Menteri' Soal 'Rapor Merah' Skor PISA Indonesia

10 Tanggapan "Mas Menteri" Soal "Rapor Merah" Skor PISA Indonesia

Edukasi
Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Edukasi
Soal Skor PISA 2018, Mendikbud Nadiem: Tidak Perlu Dikemas agar Jadi Berita Positif

Soal Skor PISA 2018, Mendikbud Nadiem: Tidak Perlu Dikemas agar Jadi Berita Positif

Edukasi
Skor PISA 2018: Peringkat Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, Ini Posisi Indonesia

Skor PISA 2018: Peringkat Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, Ini Posisi Indonesia

Edukasi
Skor PISA 2018: Daftar Peringkat Kemampuan Matematika, Berapa Rapor Indonesia?

Skor PISA 2018: Daftar Peringkat Kemampuan Matematika, Berapa Rapor Indonesia?

Edukasi
Daftar Lengkap Skor PISA 2018: Kemampuan Baca, Berapa Skor Indonesia?

Daftar Lengkap Skor PISA 2018: Kemampuan Baca, Berapa Skor Indonesia?

Edukasi
Data Scientist Indonesia Masih Langka, Ini Kemampuan yang Wajib Dimiliki

Data Scientist Indonesia Masih Langka, Ini Kemampuan yang Wajib Dimiliki

Edukasi
Universitas dan Industri Perlu Berkolaborasi Aktif Siapkan SDM

Universitas dan Industri Perlu Berkolaborasi Aktif Siapkan SDM

Edukasi
ITB Juara 'Huawei ‘ICT Competition 2019-2020' Tingkat Nasional

ITB Juara "Huawei ‘ICT Competition 2019-2020" Tingkat Nasional

Edukasi
Mengawal Mutu Pendidikan Tanpa Mengorbankan Kemerdekaan Belajar

Mengawal Mutu Pendidikan Tanpa Mengorbankan Kemerdekaan Belajar

Edukasi
Eksistensi Platform Indonesiana, Saat Ini dan Masa Mendatang

Eksistensi Platform Indonesiana, Saat Ini dan Masa Mendatang

Edukasi
Suka K-Pop? Jurusan Sastra Korea Mungkin Cocok buat Kamu, Ini Penjelasannya

Suka K-Pop? Jurusan Sastra Korea Mungkin Cocok buat Kamu, Ini Penjelasannya

Edukasi
Hari Disabilitas, Atma Jaya: Mendorong Indonesia Ramah Disabilitas

Hari Disabilitas, Atma Jaya: Mendorong Indonesia Ramah Disabilitas

Edukasi
Soal Wacana Tiga Hari Sekolah, Bukik Setiawan: Hari Sekolah Bukan Esensi

Soal Wacana Tiga Hari Sekolah, Bukik Setiawan: Hari Sekolah Bukan Esensi

Edukasi
Close Ads X