Rudiantara: Menata Ulang Dunia Harus Dibawa dalam Konteks Indonesia

Kompas.com - 11/10/2019, 18:14 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah) saat tampil sebagai pembicara dalam Konferensi Tahunan ke-9 HighScope Indonesia pada Kamis (10/10/2019) di Sekolah HighScope Indonesia, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAMenteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah) saat tampil sebagai pembicara dalam Konferensi Tahunan ke-9 HighScope Indonesia pada Kamis (10/10/2019) di Sekolah HighScope Indonesia, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Pembelajaran berbasis teknologi

Dalam kesempatan sama, CEO HighScope Indonesia Antarina SF Amir mengatakan pentingnya membekali kemampuan kepada anak-anak dan mempersiapkan mereka menghadapi berbagai masalah dan perubahan di dunia, misalnya perubahan lingkungan hidup dan populasi dunia.

Pemecahan masalah itu bisa dilakukan antara lain menggunakan teknologi sesuai perkembangan zaman. Seperti diketahui, memasuki era digitalisasi industri 4.0, ada beberapa hal yang semakin sering digunakan, misalnya big data, data analytics, dan internet of things.

Seharusnya anak-anak diajarkan memecahkan masalah dengan memanfaatkan berbagai kecanggihan teknologi tersebut.

“Ada kemampuan menguasai teknologi dan analisis membaca data. Harusnya kita mampukan anak-anak untuk memecahkan masalah. Istilahnya technology based learning, bagaimana teknologi digunakan untuk pecahkan masalah, termasuk problem iklim dan populasi,” tutur Antarina.

Baca juga: Rudiantara: Mendorong Pendidikan Islam Jadi Ekosistem Besar Penangkal Hoaks

Menurutnya, anak-anak tidak hanya diberi kemampuan untuk belajar, tetapi juga dibuka wawasannya sehingga bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai masalah di dunia dan bermacam tantangan yang belum diketahui akan terjadi pada masa mendatang.

Kemampuan empati dan kolaborasi

“Mereka (anak-anak) bukan hanya diberikan knowledge, tapi agile mindset, pikiran yang terbuka dan adaptable untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah di dunia yang ada saat ini dan akan datang dengan segala macam challenge yang tidak bisa diantisipasi sekarang,” jelasnya.

Dengan begitu nantinya saat dewasa mereka akan bisa berpartisipasi mendesain ulang segala hal sehingga berbagai masalah dan kekacauan di dunia selama ini dapat dihindari, termasuk konflik menyangkut perbedaan latar belakang kehidupan dari berbagai sisi.

Terkait penggunaan teknologi, Antarina pun menuturkan hal yang harus diperhatikan yaitu pemanfaatannya harus disertai dengan kemampuan olah rasa. Sebab, manusia mempunyai pikiran dan perasaan, itulah yang membedakannya dengan teknologi.

“Anak-anak harus diajarkan juga empati dan kolaborasi. Itu yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Makanya, mari kita resedign the world bersama anak-anak untuk mengantisipasi problem dunia. Saya juga minta kepada guru-guru untuk berkomitmen melakukan desain ualng dengan menyiapkan anak-anak itu,” jelas Antarina.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X