Program 100 Hari, Ini 2 Agenda Penting Menristek Bambang Brodjonegoro

Kompas.com - 24/10/2019, 14:12 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberi arahan dalam acara ?Serah Terima Jabatan Menristekdikti Periode 2014-2019 kepada Menristek/KaBRIN periode 2019-2024 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Dok. KemenristekdiktiMenristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberi arahan dalam acara ?Serah Terima Jabatan Menristekdikti Periode 2014-2019 kepada Menristek/KaBRIN periode 2019-2024 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

KOMPAS.com – Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro secara resmi menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi ( Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) periode 2019 – 2024 sejak 23 Oktober 2019. Ia menggantikan Menristekdikti periode 2014 - 2019 Mohamad Nasir.

Pelantikannya dilakukan pada Rabu (23/10/2019) di Auditorium Lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, dalam acara “Serah Terima Jabatan Menristekdikti Periode 2014 - 2019 Mohamad Nasir kepada Menristek/KaBRIN periode 2019 - 2024 Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro”.

Menteri Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa ada dua agenda penting dalam program 100 harinya sebagai Menristek/Kepala BRIN.

1. Fokus menyiapkan BRIN

Agenda pertama, dia akan fokus untuk mendirikan BRIN sesuai amanat Undang-Undang Sisnas Iptek. Hal yang diperhatikan yaitu pada program, struktur, dan implementasinya.

Baca juga: Profil Bambang Brodjonegoro, Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional

"Mengapa pemerintah menginginkan adanya BRIN adalah karena Presiden RI Joko Widodo dalam arahannya menyatakan bahwa beliau tidak ingin kegiatan penelitian pengembangan pengkajian dan penerapan (litbangjirap) di setiap lembaga tidak hanya LPNK dalam koordinasi Kemenristek, tetapi juga aktivitas litbangjirap dalam koordinasi kementerian atau lembaga lainnya, mempunyai kecenderungan melakukan kegiatan sendiri -sendiri,” ujar Bambang.

Menurut dia, penelitian dan pengembangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan membuat anggaran penelitian yang jumlahnya sedikit (kecil) menjadi tidak efektif karena akan terbagi lebih sedikit bagi setiap peneliti.

"Karena ada keterbatasan anggaran, akhirnya kualitas penelitiannya menjadi terbatas, bukan karena kualitas researcher atau penelitinya, tapi lebih karena dana yang memang terbatas harus dibagi dalam jumlah besar," ungkapnya.

2. Sinergi dengan Kemendikbud

Agenda kedua yaitu menyinergikan program-program pendidikan tinggi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Nanti saya harus bertemu Pak Nadiem (Mendikbud), bicara bagaimana transisi yang terbaik karena saya juga tidak mau waktu terbuang percuma dengan kesibukan urusan administratif birokrasi. Saya ingin semua orang bekerja keras (double gardan) untuk menyelesaikan homeworks bersama-sama,” ucap Bambang.

“Di satu sisi kita bereskan BRIN dan masalah organisasi kembalinya Dikti ke Kemendikbud, di sisi lain agenda ristek dan inovasi Kemenristek harus kita tetap kejar. Mudah-mudahan di awal ini semua orang bekerja keras sampai BRIN sudah punya bentuk yang jelas," imbuhnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X