Berpikir Rasional, Mendikbud Baru Harus Siap Masuki "Belantara Buas"

Kompas.com - 24/10/2019, 22:59 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem  Makarim sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOMenteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri.


KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo telah menunjuk Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) periode 2019-2024. Hal itu disampaikan pada pengumuman para menteri yang masuk Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10/2019) pagi di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Merespons penunjukan itu, pengamat pendidikan Ahmad Rizali mengatakan bahwa sebagai Mendikbud baru, Nadiem harus bisa melakukan inovasi dan perbaikan berkelanjutan, serta berpikir rasional.

Sebab, menurut Ahmad, Nadiem memiliki pengalaman yang indah saat menjalani pendidikan. Diyakini bahwa Nadiem tidak pernah mengalami pendidikan di sekolah dasar yang ditinggal gurunya karena diperintah untuk mengikuti acara Disdik kabupaten atau kota.

Tidak memiliki "trauma" pendidikan

Ahmad pun meyakini bahwa Nadiem mempunyai gambaran ideal tentang sekolah yang benar dan ideal tanpa pernah mengalami "trauma" sekolah yang buruk.

Dia mengatakan, ketika seorang pemimpin memiliki "trauma" emosional dengan masa lalu, maka yang dipikirkan adalah peristiwa itu tidak boleh lagi terjadi dengan semangat "dendam".

Apabila yang ada adalah “dendam”, maka biasanya hanya "baper" yang dibawa, tidak bisa bersikap cool dan berkepala dingin untuk membereskan birokrasi di kementerian.

Baca juga: Pendidikan Tinggi Kembali ke Kemendikbud, Ini Tanggapan Akademisi

“Dengan pengalaman indah saat dididik, maka yang ada adalah inovasi, perbaikan berkelanjutan, dan rasional. Berpikir rasional itulah yang saya harapkan dari Mendikbud Nadiem,” ucap Ahmad ketika dihubungi Kompas.com.

Dia melanjutkan, rasional berpikir itu dilaksanakan dengan mengetahui bahwa kualitas rata-rata SD/MI di Indonesia sangat buruk. Padahal, para siswanya merupakan generasi yang akan meneruskan kehidupan di negeri ini.

Saat Mendikbud Nadiem mampu berpikir rasional, diharapkan dia tidak ragu-ragu untuk mengatakan dan menerima kondisi tersebut dan bisa memulai pekerjaannya dari situ tanpa merasa perlu "menyembunyikan" wajah dan bersikap "buruk muka cermin dibelah".

Masuk "belantara buas"

Ahmad mengibaratkan Mendikbud Nadiem seperti petualang yang sudah siap mental dan fisik memasuki "belantara buas" di Kemendikbud, apalagi saat ini digabung dengan pendidikan tinggi.

“Saya anjurkan agar alert dan ‘menyewa’ guide yang andal dan seregu pengawal berkualifikasi ‘raider’. Mendikbud Nadiem akan memasuki belantara yang di dalamnya mengurusi kebijakan jutaan guru dan ratusan ribu dosen dengan puluhan ribu guru besar. Kementerian ini sangat menantang,” jelasnya.

Dia pun mengharapkan agar Nadiem memanfaatkan “ketidakpedulian” dalam konteks positif dan usianya yang masih muda untuk mengatasi berbagai masalah birokrasi di Kemendikbud, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Saya berharap your ‘ignorance’ (dalam konotasi positif) dan kemudaanmu akan membantumu ‘menaklukkan’ birokrasi Senayan serta di 34 provinsi dan lebih dari 500 kabupaten/kota, karena merekalah ‘musuh’ utama (dan dalam selimut) dan akan menjadi mitra,” pungkas Ahmad.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X