Menjadikan Sumber Hayati Indonesia "Tuan Rumah di Negeri Sendiri"

Kompas.com - 29/10/2019, 19:47 WIB
Kemenko Kemaritiman dan Kemristekdikti menggelar Seminar Nasional Pencegahan Pencurian Sumber Daya Hayati (Biopiracy) Indonesia di Tangerang, Senin (28/10/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARKemenko Kemaritiman dan Kemristekdikti menggelar Seminar Nasional Pencegahan Pencurian Sumber Daya Hayati (Biopiracy) Indonesia di Tangerang, Senin (28/10/2019).

KOMPAS.com - Kompetensi dan kemampuan peneliti Indonesia dalam mengembangkan kekayaan keanakaragaman hayati tidak kalah dengan peneliti asing mengingat peneliti Indonesia lebih mengetahui dan menguasai kondisi alamnya.  

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono dalam "Seminar Nasional Pencegahan Pencurian Sumber Daya Hayati (Biopiracy) Indonesia" di Tangerang, Senin (28/10/2019).

Seminar ini membahas pengembangan potensi sumberdaya hayati Indonesia untuk ekonomi di masa yang akan datang dan langkah-langkah konkrit mencegah agar kekayaan sumber daya hayati , terutama sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional, tidak dicuri oleh negara lain atau dikenal dengan istilah "biopiracy".

PR besar pengembangan SDA

Lebih jauh Agung menyampaikan ada 3 tantangan utama dalam mengembangkan penelitian sumber daya alam (SDA) Indonesia agar memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat. 

"Hanya masalahnya duitnya cekak, itu masalah utama. Sebaiknya peneliti Indonesia diberi kesempatan seluas-luasnya agar bisa mengangkat kekayaan sumber hayati Indonesia," tegas Agung.

Baca juga: Kemenristekdikti Siap Tambah Dana untuk Tingkatkan Penelitian

Agung juga kemudian menyampaikan tantangan kedua adalah bagaimana hasil penelitian ini tidak berhenti pada skala laboratorium namun didorong masuk dalam industri. "Kalau penelitan skala lab mungkin sudah ribuan jumlahnya di Indonesia. Kalau kita pakai bisa menyelesaikan berbagai masalah di Indonesia," tambahnya.

Tantangan berikutnya, menurut Agung, masuk dalam skala industri yang melibatkan banyak aspek seperti produksi, pemasaran, distribusi dan banyak aspek lain. "Ini di luar jangkauan peneliti, nah ini harus dibahas secara nasional. Jangan sampai produk sudah jadi namun tidak ada pasarnya," ujar  

Pasar sumber hayati Indonesia, walau dimiliki Indonesia malah banyak ditentukan oleh pasar asing. Inilah yang menjadi tantangan dalam pengembangan sumber hayati Indonesia yang sangat kaya.

"PR kita sangat besar, yaitu menjadikan sumber daya hayati Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri yang bisa menyejahterakan masyarakat," ujar Agung.

Pengembangan SDM berdaya saing

“Riset, pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas SDM di bidang sumber daya hayati harus ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan program prioritas Kabinet Indonesia Maju yaitu peningkatan kualitas SDM," ujar Agung.

Ia menegaskan jika tidak dimanfaatkan Indonesia, maka potensi keanekaragaman hayati yang besar tersebut, akan dimanfaatkan negara maju dan perusahaan multinasional.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perkuat Wawasan Konstitusi, Untar Tuan Rumah Kompetisi Peradilan Semu

Perkuat Wawasan Konstitusi, Untar Tuan Rumah Kompetisi Peradilan Semu

Edukasi
Lulusan SMK hingga S1, Ini Jadwal Lengkap Seleksi CPNS Kemendikbud 2019

Lulusan SMK hingga S1, Ini Jadwal Lengkap Seleksi CPNS Kemendikbud 2019

Edukasi
CPNS 2019 Kemendikbud Cari Lulusan SMK hingga S1, Ini Jurusan Dibutuhkan

CPNS 2019 Kemendikbud Cari Lulusan SMK hingga S1, Ini Jurusan Dibutuhkan

Edukasi
Kemendikbud Buka Formasi CPNS 2019, Ini Unit Kerja serta Syarat yang Dibutuhkan

Kemendikbud Buka Formasi CPNS 2019, Ini Unit Kerja serta Syarat yang Dibutuhkan

Edukasi
Tidak Hanya Pintar, Ini 15 Universitas Terbaik dalam Pengabdian Masyarakat

Tidak Hanya Pintar, Ini 15 Universitas Terbaik dalam Pengabdian Masyarakat

Edukasi
Cerita Afni dan Perjalanannya Meraih Cita-Cita

Cerita Afni dan Perjalanannya Meraih Cita-Cita

BrandzView
Perkuat Kompetensi Guru Kreatif, Yayasan Pendidikan Astra Gelar Seminar STEM

Perkuat Kompetensi Guru Kreatif, Yayasan Pendidikan Astra Gelar Seminar STEM

Edukasi
Mengenal Prof Bambang Hero Saharjo, Penerima Penghargaan Internasional John Maddox

Mengenal Prof Bambang Hero Saharjo, Penerima Penghargaan Internasional John Maddox

Edukasi
Ini Dia Para Jawara 'IdeaNation 2019', dari Kampus Mana Saja?

Ini Dia Para Jawara "IdeaNation 2019", dari Kampus Mana Saja?

Edukasi
Sering Kehilangan Semangat Belajar? Coba Lakukan Hal Ini!

Sering Kehilangan Semangat Belajar? Coba Lakukan Hal Ini!

BrandzView
Kisah Ayah Inspiratif, dari Buruh Tani hingga Antar Anak Tiap Hari

Kisah Ayah Inspiratif, dari Buruh Tani hingga Antar Anak Tiap Hari

Edukasi
Upaya Menyandingkan 'Habibie Award' Jadi Sekelas 'Nobel'

Upaya Menyandingkan "Habibie Award" Jadi Sekelas "Nobel"

Edukasi
Wahai Mahasiswa yang Hobi Rebahan, Ini 7 Pekerjaan Sampingan Cocok Buat Kamu

Wahai Mahasiswa yang Hobi Rebahan, Ini 7 Pekerjaan Sampingan Cocok Buat Kamu

Edukasi
Berjasa Bidang Pengetahuan, Ini 5 Penerima 'Habibie Award 2019'

Berjasa Bidang Pengetahuan, Ini 5 Penerima "Habibie Award 2019"

Edukasi
Prof. Bambang Hero Saharjo Raih Penghargaan Internasional 'John Maddox Prize 2019'

Prof. Bambang Hero Saharjo Raih Penghargaan Internasional "John Maddox Prize 2019"

Edukasi
Close Ads X