Jelang Hari Guru Nasional, Ini 5 Pesan Penting Mendikbud Nadiem bagi Guru

Kompas.com - 24/11/2019, 10:13 WIB
Antusiasme peserta dalam sesi kelas paralel ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, berkunjung dan berdiskusi pada hari kedua TPN 2019 (26/10/2019) di Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. DOK. KOMPAS.com/EVELYN KUSUMAAntusiasme peserta dalam sesi kelas paralel ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, berkunjung dan berdiskusi pada hari kedua TPN 2019 (26/10/2019) di Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan.

KOMPAS.com - Menjelang Hari Guru Nasional tanggal 25 November, beredar salinan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang akan dibacakan pada peringatan Hari Guru Nasional nanti.

Dalam salinan pidato Hari Guru Nasional 2019 tersebut, Mendikbud Nadiem Makarim ingin menyampaikan isi hati apa adanya tanpa kata-kata inspiratif, kata-kata retorik.

"Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan ret orik. Mahon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke."

Nadiem Makarim menyadari betul saat ini meski memiliki tugas mulia membentuk masa depan bangsa, guru Indonesia masih terbelit dengan tugas administrasi yang tidak jelas manfaatnya.

Baca juga: Viral Pidato Nadiem Makarim soal Hari Guru Nasional, Ini Isinya...

"Guru Indonesia yang Tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit.
Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.

Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas."

Tantangan guru Indonesia

Nampak Nadiem paham betul tugas yang harus dihadapi guru Indonesia; mulai dari target nilai siswa, kurikulum yang padat, hingga kondisi pembelajaran yang berbeda dengan kemampuan yang dibutuhkan.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekita rnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Anda frustrasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal."

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X