Mendudukkan soal "Sekolah" Pranikah dan Pendidikan Seks di Sekolah

Kompas.com - 29/11/2019, 21:18 WIB
Ilustrasi Sekolah Pranikah DOK. PRIBADI/ZHAFIRA AQYLAIlustrasi Sekolah Pranikah

KOMPAS.com - Beberapa minggu belakangan ramai cuitan pro-kontra program sertifikasi layak nikah yang direncanakan akan diimplementasikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Kemenko PMK) mulai tahun 2020.

Program ini sejatinya bertujuan memberi pembekalan kepada calon mempelai, dalam bentuk "sekolah" pranikah, untuk menambah ilmu yang dipandang kritikal sebelum memasuki jenjang pernikahan, seperti kesehatan reproduksi, alat kontrasepsi yang aman digunakan, pencegahan terhadap penyakit menular seksual (PMS), dan pencegahan stunting ketika membesarkan anak kelak.

Selain itu, sekolah pranikah ini memiliki obyektif untuk mengurangi angka perceraian di Indonesia yang meningkat.

Dalam implementasinya, Kemenko PMK Muhadjir Effendy bermaksud melibatkan pihak-pihak terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dimana tiap bagian akan berperan di peranannya masing-masing.

Pro-kontra

Program yang direncanakan dengan tujuan membangun rumah tangga yang kuat guna membesarkan SDM yang berkualitas ini, sayangnya, tidak luput dari menjadi topik perdebatan rakyat.

Walau dengan dukungan, banyak tudingan sekolah pranikah malah akan menyulitkan prosesi pernikahan yang seharusnya dibuat mudah, juga dirasa terlalu dalam memasuki ranah privat masyarakat.

Menjawab tudingan pertama, Deputi Koordinasi Bidang Pendidikan dan Agama Kemenko PMK menegaskan bahwa sertifikat layak nikah tidak wajib, tetapi “akan lebih bagus (ikut), supaya keluarganya jadi lebih baik.” (19/11/2019)

Untuk yang kedua, terlihat jelasnya budaya Timur di Indonesia, dimana ilmu yang penting diketahui oleh semua orang pada usia dewasa masih dianggap memasuki ranah privat. Sikap seperti ini terus menghalangi kebanyakan masyarakat Indonesia dari mendapatkan ilmu tentang pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang layak.

Pendidikan seks di sekolah

Sebenarnya, jika sekolah-sekolah di Indonesia sudah mengimplementasikan pendidikan seks berkualitas sesuai pedoman pendidikan seks komprehensif UNESCO, akan lebih masuk akal jika masyarakat menolak sekolah pranikah yang direncanakan akan dilaksanakan selama 3 bulan, dengan landasan argumen sudah mendapatkan ilmu layak dan menerima satu-dua nasihat saja dari KUA sebelum menikah dinilai cukup.

Pada kenyataannya, pendidikan seks belum ternormalisasi di sekolah-sekolah di Indonesia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X