Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/11/2019, 21:18 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Walau sudah memasuki kurikulum K-13 seperti ditegaskan Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad di tahun 2016, sedikit sekolah mengeksekusi mengajarkan pendidikan seksual bagi murid.

Materi diajarkan juga terbatas pada melarang melakukan hubungan seks, tanpa memberi penjelasan mengenai aspek-aspek yang perlu diketahui untuk melakukan hubungan secara aman dan bertanggung jawab. Selain itu, isu krusial seperti consent dan peran gender pun masih jarang dibahas.

Mengingat budaya konservatif di Indonesia, dapat dipahami mengapa ajuan mengimplementasikan pendidikan seks terus mendapat respon negatif.

Kekhawatiran ini bisa jadi penyebab mengapa sekolah memilih tidak mengajarkan pendidikan seks di luar aspek biologis yang diajarkan di mata pelajaran IPA atau Biologi.

Tetapi sekali lagi perlu ditekankan bahwa penting bagi semua orang, terutama mereka yang sudah menginjak usia dewasa, untuk memiliki ilmu layak terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas, dan sudah menjadi kewajiban bagi negara untuk memastikan ilmu ini betul diajarkan sejak usia yang dirasa sesuai.

Tidak hanya dicantumkan di kurikulum, tapi juga dipastikan pelaksanaannya dinas-dinas setempat. Materi ini dapat diperkenalkan secara garis besar ketika SMP, lalu diperdalam di jenjang SMA. Selebihnya, akan lebih baik lagi jika bisa ditekankan lebih lanjut di bangku kuliah, dimana mahasiswa mendekati usia siap nikah.

Kondisi Ideal

Idealnya, akan lebih baik jika masyarakat dapat menerima pendidikan seks komprehensif di sekolah, lalu tetap mengikuti kelas pranikah karena akan ada materi eksklusif yang lebih pantas diberikan kepada calon mempelai.

Dalam 100 hari pertama Mendikbud Nadiem Makarim yang digunakan untuk mendengar aspirasi murid dan pendidik di Indonesia, Nadiem perlu mengkaji lagi implementasi serta eksekusi pendidikan seks di Indonesia yang belum terlaksana secara maksimal.

Dalam proses pengkajian ini, Nadiem perlu menitikberatkan kewajiban pendidikan seks yang holistik dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, juga melakukan pembekalan kepada guru agar dapat memberi ilmu inklusif dan cocok dengan keanekaragaman agama dan adat budaya siswa-siswi di Indonesia.

Zhafira Aqyla S. S, Human Sciences International Undergraduate Degree Program, Osaka UniversityDOK. PRIBADI/ZHAFIRA AQYLA Zhafira Aqyla S. S, Human Sciences International Undergraduate Degree Program, Osaka University

Sambil berjalan, Kemenko PMK perlu tetap mengadvokasi kepentingan sekolah pranikah, terutama bagi mereka yang menikah di usia di bawah yang dipersyaratkan UU Perkawinan (19 tahun untuk laki-laki dan perempuan) dan yang berasal dari daerah di mana sekolah masih jarang memberikan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi kepada murid.

Selain itu, perbincangan mengenai pendidikan seks tentu perlu mengundang peran aktif orangtua yang memiliki peran terbesar dalam pendidikan anak.

Jika orangtua, guru, dan masyarakat secara menyeluruh bisa menyatukan sikap dan suara mengenai pendidikan seks dan cara tepat mengkomunikasikannya, normalisasi pembahasan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi akan mudah diterima semua dengan berjalannya waktu.

Penulis: Zhafira Aqyla S. S.
Human Sciences International Undergraduate Degree Program, Osaka University

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+