Ayo Bergerak, Lakukan 6 Hal Ini agar Indonesia Tidak Lagi Jadi "Anak Bawang" PISA

Kompas.com - 04/12/2019, 13:45 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim menerima hasil PISA 2018 untuk Indonesia dari Yuri Belfali (Head of Early Childhood and Schools OECD) di Gedung Kemendikbud, Jakarta (3/12/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARMendikbud Nadiem Makarim menerima hasil PISA 2018 untuk Indonesia dari Yuri Belfali (Head of Early Childhood and Schools OECD) di Gedung Kemendikbud, Jakarta (3/12/2019).

KOMPAS.com - Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) untuk Indonesia tahun 2018 telah diumumkan OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development).

Beberapa catatan penting muncul menyoroti skor nilai PISA siswa Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata untuk kemampuan baca, matematika dan sains.

Terkait hal itu, Totok Suprayitno (Kepala Badan Penilitian dan Pengembangan) Kemendikbud usai paparan hasil PISA 2018 untuk Indonesia di Jakarta (3/12/2019) menyampaikan perlunya perubahan dalam budaya belajar di Indonesia.

"Kita semua harus bergerak tidak perlu menunggu kebijakan pemerintah. Perubahan harus dilakukan berbasis gerakan, bukan berbasis kebijakan apalagi anggaran atau proyek," tegas Totok.

Berdasarkan hasil penilaian PISA, Totok menyampaikan ada beberapa perubahan yang dapat dilakukan oleh para guru di depan kelas agar terjadi perubahan sehingga Indonesia tidak selalu mendapat skor rendah PISA.

Berdasarkan paparan Totok Suprayitno Kabalitbang Kemendikbud, berikut 6 gerakan perubahan yang dapat dilakukan dalam pembelajaran di kelas:

Baca juga: Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan di Era Nadiem Makarim

1. Gunakan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi)

Siswa dengan latarbelakang sosial ekonomi yang sama memiliki skor membaca 40 poin lebih tinggi ketika diajar oleh guru yang memanfaatkan TIK. Hal ini menunjukkan memiliki infrastruktur TIK tidak cukup, gunakanlah dalam pembelajaran.

2. Libatkan siswa dalam membaca

Siswa yang mengaku sering dilibatkan guru dalam pembelajaran membaca memiliki skor membaca 30 poin dibandingkan siswa yang tidak dilibatkan atau jarang terlibat.

Strategi yang dapat dilakukan antara lain: mengajak siswa berpendapat, menceritakan kembali isi bacaan, mengaitkan bacaan dengan peristiwa di sekitar, membandingkan bacaan dengan topik sama,memberikan pertanyaan kritis yang memantik siswa memahami bacaan.

3. Tinggalkan membaca nyaring

Hasil PISA menunjukkan strategi membacakan nyaring suatu bacaan bagi siswa lainnya tidak efektif untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan bagi siswa usia 15 tahun.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X