Nadiem Sebut Program Merdeka Belajar Sangat Berkaitan dengan Guru

Kompas.com - 15/12/2019, 10:48 WIB
Sebanyak 200.000 siswa SMA/MA/SMLB di Provinsi Jawa Barat menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Senin (18/3/2019). Dok. Disdik jabarSebanyak 200.000 siswa SMA/MA/SMLB di Provinsi Jawa Barat menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Senin (18/3/2019).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyebutkan sebagian besar kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke depan akan berkaitan dengan guru.

Hal itu ia sampaikan dalam pemaparan empat pokok kebijakan program Merdeka Belajar kepada Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Rapat Kerja dengan Komisi X, Kamis (12/12/19).

"Kita tidak mungkin meningkatkan kapasitas guru kalau guru masih terbelenggu dengan hal-hal administratif yang menyita waktu dan yang tidak berhubungan langsung dengan pemelajaran," kata Nadiem dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Nadiem menyebutkan bahwa ujian sekolah dengan format baru yang menggantikan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) esensinya adalah mengembalikan kedaulatan guru dan sekolah untuk memberikan penilaian kepada peserta didiknya.

Soal format baru UN

"Kurikulum 2013 itu standar nasional. Bagaimana penilaian dan bentuk soalnya bentuk tesnya itu yang seharusnya menjadi kedaulatan sekolah," ujar Nadiem.

Nadiem meminta agar anggota legislatif dan masyarakat pada umumnya tidak meremehkan kemampuan guru. Dalam kebebasan yang diberikan juga terkandung tanggung jawab pendidik.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Dunia Tidak Butuh Anak Jago Menghafal

"Dengan demikian rasa tanggung jawab dan ownership -nya meningkat. Sehingga ia (guru), akan terus mencari cara untuk menjadikan lebih baik," ujar Nadiem.

Terkait penggantian ujian nasional dengan asesmen kompetensi minimal dan survei karakter, Nadiem memastikan hal tersebut telah dikaji dengan saksama.

Tiga materi utama yang diberikan dalam asesmen kompetensi minimal dan survei karakter, yakni penalaran menggunakan bahasa (literasi), matematika (numerasi), dan karakter telah mencakup kompetensi dasar yang juga berlaku secara internasional.

"Ini merupakan suatu kompetensi fundamental yang kita pilih. Ini merupakan kompetensi inti untuk belajar apapun," kata Mendikbud Nadiem.

Sementara di dalam survei karakter, Nadiem meyakinkan survei tersebut tidak akan berupa tes hafalan tentang sila-sila Pancasila. Namun, dibuat dengan format sederhana dan fokus untuk mengetahui seberapa besar nilai-nilai Pancasila telah mengakar pada diri para siswa.

Nadiem mencontohkan seperti pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai gotong royong, keadilan, ataupun toleransi. Melalui survei ini, Kemendikbud juga berharap dapat menemukan kondisi kesejahteraan (well being) para siswa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X