Rektor Universitas Pertamina: Jumlah Lulusan STEM di Indonesia Masih Kalah Jauh dari China dan India

Kompas.com - 04/02/2020, 15:30 WIB
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Akhmaloka, PH.d memberikan pidato di acara peringatan Dies Natalis Universitas Pertamina ke-4 di Gedung Wanita Patra Pertamina, Jakarta, Selasa (4/2/2020). KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJORektor Universitas Pertamina, Prof. Akhmaloka, PH.d memberikan pidato di acara peringatan Dies Natalis Universitas Pertamina ke-4 di Gedung Wanita Patra Pertamina, Jakarta, Selasa (4/2/2020).

KOMPAS.com - Rektor Universitas Pertamina, Prof. Akhmaloka, Ph.D. mengatakan Indonesia  membutuhkan sumber daya manusia (SDM) terampil dengan kompetensi di bidang engineering dan natural science. 

Hasil riset World Economic Forum tahun 2016, menyebutkan jumlah lulusan program studi STEM (science, technology, engineering, and mathematics) dari Indonesia terpaut jauh dengan China dan India karena perguruan tinggi di Indonesia masih didominasi oleh prodi-prodi non-STEM.

Hal itu ia sampaikan dalam acara peringatan Dies Natalis ke-4 Universitas Pertamina di Gedung Wanita Patra Pertamina, Jakarta, Selasa (4/2/2020). 

Baca juga: Sisi Gelap Teknologi dan Informasi: Kurikulum STEM Saja Tidak Cukup

"Tentu, hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan institusi pendidikan untuk meningkatkan jumlah SDM yang memiliki keterampilan di tengah derasnya harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan potensi bonus demografi dan anugerah sumber daya alam," kata Prof. Akhmaloka dalam pidatonya.

STEM untuk persiapan SDM Unggul

Saat ini, setiap negara sedang berlomba mempersiapkan SDM unggul yang siap kerja. Hasil riset World Economic Forum tahun 2016, menyebutkan bahwa China menempati urutan pertama sebagai negara dengan lulusan program studi terbanyak, yaitu 4,7 juta lulusan, disusul India dengan jumlah 2,6 juta lulusan. Sementara Indonesia, berjumlah 206.000 lulusan.

Baca juga: Mendesak, Pembaruan Alogaritma STEM untuk Mitigasi Bencana

Dari 6,5 juta mahasiswa yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, hanya sekitar 2 juta atau 30 persen mahasiswa yang mengambil bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam, kesehatan, teknik, serta pertanian.

"Percepatan pembangunan infrastruktur yang ditargetkan oleh Presiden Republik Indonesia tentu membutuhkan banyak SDM terampil yang memiliki kompetensi di bidang engineering dan natural science," ujar Prof. Akhmaloka.

Menjadi bencana demografi

Indonesia sedang menyongsong bonus demografi. Beberapa lembaga survei asing, kata Prof. Akhmaloka memprediksi Indonesia akan sejajar dengan Cina dan Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045.

Ia mengatakan bonus demografi tak akan datang dengan sendirinya. Prof. Akhmaloka menekankan SDM unggul perlu direncanakan dan dikembangkan mulai saat ini.

Baca juga: Hadapi Bonus Demografi, Anak Perlu Dibekali Kemampuan Literasi

"Di tahun keempat ini, Insya Allah, semangat yang melandasi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Universitas Pertamina masih tetap sama dengan semangat pada saat universitas ini diresmikan yaitu semangat membangun SDM yang berkualitas dan berkontribusi membangun ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan bangsa dan negara," tambah Prof. Akhmaloka.

Ia mengatakan jika pengelolaan program studi STEM tidak berjalan dengan baik, maka bonus demografi pada tahun 2030 justru akan menimbulkan malapetaka (demographic dissaster).

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X