Bukan Dimarahi, Ini Cara Mendidik Anak Saat Berkelahi atau Menyakiti Teman

Kompas.com - 10/02/2020, 20:30 WIB
Ilustrasi dampak buruk membandingkan anak dengan orang lain. SHUTTERSTOCKIlustrasi dampak buruk membandingkan anak dengan orang lain.

1. Dengar alasan anak

Tanyakan alasan anak mengapa ia melakukan tindakan tersebut. Pastikan melihatnya dari sudut pandang anak bahwa anak-anak maupun orang dewasa tidak akan melakukan tindak kejahatan ataupun agresif tanpa adanya alasan.

Dengarkan alasan anak dan terima apa yang dirasakannya, misal dengan berkata "iya, kamu kesal ya." Dengan begitu anak merasa di dengar, emosinya pun menjadi reda.

2. Beri pemahaman, bukan kemarahan

Setelah menerima perasaan anak dan emosinya mereda, lanjutkan dengan memberi pemahaman bahwa itu merupakan tindakan yang tidak baik. Katakan dengan nada lembut, bukan berupa amarah.

Semisal, anak menjambak karena temannya merebut mainan. Orangtua dan guru dapat memberi tahu anak bahwa permasalahan itu dapat diselesaikan dengan bicara baik-baik tanpa adanya kekerasan. Cara lain dalam memberi pemahaman dan dapat pula dengan mencontohkan langsung pada anak.

Anda dapat menarik lembut atau sehelai rambut pada anak, dan menanyakan kepada mereka bagaimana rasanya. Saat mereka menjawab sakit, secara tidak langsung anak akan belajar bahwa apa yang dilakukan kepada temannya bukanlah hal yang benar.

Baca juga: Tanamkan Budi Pekerti, Bacakan 5 Dongeng Tradisional ini Sejak Dini

3. Ajak anak mengeluarkan lewat kata-kata

Langkah selanjutnya, ajari anak mengungkapkan keinginan lewat kata-kata. Ini merupakan hal dasar yang harus orangtua ajarkan kepada anak-anak terutama dalam mencegah tindakan agresivisme pada usia dini.

Dengan mengajarkan kebiasaan seperti ini, anak akan terbiasa menyelesaikan permasalahannya dengan cara membicarakan atau mengungkapkan permasalahan tersebut dengan kata-kata tanpa harus bertindak agresif.

4. Bangga dan kecewa

Ketimbang memarahi anak, orangtua bisa mengungkapkan rasa kecewa terhadap perilaku buruknya di luar rumah, katakanlah bahwa Anda kecewa dan sedih dengan sikapnya. Dengan begitu anak akan belajar memahami perasaan orang lain.

Begitu juga sebaliknya, saat anak berperilaku baik katakanlah bahwa Anda senang dan bangga dengan mereka. Perbedaan respon ini akan membuat anak lebih mengerti sikap-sikap mana saja yang membahagiakan orangtua atau sebaliknya.

5. Sanksi sosial

Bila anak masih melakukan tindakan agresif, katakan kepada anak bahwa besok mungkin tak ada yang mau berteman dengannya. Karena setiap orang tidak ada yang ingin memiliki teman yang suka menyakiti satu sama lain.

Namun, bila anak justru menjadi "korban" tindakan agresif temannya, janganlah sekali-kali menyuruh anak untuk membalas teman. Sebab, secara tidak langsung Anda mengajarkan sikap balas dendam terhadap anak sekaligus membolehkan melakukan kekerasan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X