Seleksi Ketat, Ini Tanggapan PGRI dan Ormas di Program Organisasi Penggerak

Kompas.com - 23/07/2020, 09:52 WIB
Organisasi Penggerak Dok. KemendikbudOrganisasi Penggerak

KOMPAS.com - Program Organisasi Penggerak diluncurkan pada Maret 2020. Para peserta mendaftar kemudian mengikuti proses evaluasi proposal terdiri atas seleksi administrasi, substansi, dan verifikasi.

Proses evaluasi proposal berfokus pada substansi yang dilakukan dengan prinsip transparan dan akuntabel oleh lembaga independen, yaitu SMERU Research Institute.

Proses evaluasi proposal dilaksanakan oleh tiga evaluator independen dengan metode double blind review yang hanya memakai ID proposal dan ID organisasi masyarakat.

Melalui cara ini, tim evaluator tidak mengetahui organisasi mana yang memiliki proposal sehingga mereka hanya fokus pada substansi proposal yang telah diserahkan.

Proses double blind review dan penggunaan kriteria yang sama oleh tim evaluator dinilai mampu menjaga netralitas dan independensi.

Sejumlah yayasan dan organisasi masyarakat di bidang pendidikan tergabung dalam Program Organisasi Penggerak (POP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menyampaikan proses seleksi program ini telah dilakukan dengan sangat ketat.

Mereka berharap POP mampu mendorong peningkatan kualitas pendidikan anak Indonesia.

Baca juga: Kompetensi 50 Ribu Guru Akan Ditingkatkan lewat Organisasi Penggerak

Tanggapan PGRI

Jejen Musfah, Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) juga menyambut baik bergulirnya POP. 

Melalui rilis resmi GTK Kemendikbud, ia menyampaikan peningkatan mutu guru merupakan tugas bersama pemerintah dan masyarakat. “PGRI sudah dan akan berusaha melakukan pelatihan-pelatihan guru sesuai perkembangan Iptek dan perubahan masyarakat,” katanya.

Jejen menjelaskan, pelatihan merupakan media belajar dan peningkatan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan melahirkan siswa yang kompeten. Jadi, guru merupakan kunci pembentukan generasi bangsa berkualitas dan kreatif.

Saat ini, mutu pendidikan masih rendah, meskipun secara individu dan sekolah-sekolah tertentu banyak meraih prestasi internasional. Faktor utamanya adalah lemahnya guru dari sisi kompetensi dan kesejahteraan.

“Di sinilah pentingnya POP dengan pelibatan organisasi masyarakat sebagai pelaksana di mana guru diberi kesempatan belajar hal baru terkait literasi, numerasi, dan karakter,” ujar Jejen.

Dompet Duafa Pendidikan

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X