Orangtua dan Guru, Pahami Deteksi Dini dan Penanganan ABK

Kompas.com - 05/10/2020, 12:42 WIB
Kegiatan yang memfasilitasi siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk saling mendukung dan membaurkan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan anak-anak normal atau nonABK, dapat meningkatkan interaksi dan melatih siswa saling membantu sehingga menghindari terjadinya bullying di sekolah. DOK. TANOTO FOUNDATIONKegiatan yang memfasilitasi siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk saling mendukung dan membaurkan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan anak-anak normal atau nonABK, dapat meningkatkan interaksi dan melatih siswa saling membantu sehingga menghindari terjadinya bullying di sekolah.
|

KOMPAS.com - Perkembangan setiap anak berbeda-beda. Namun, ada pula anak yang mengalami penyimpangan atau kelainan dalam segi fisik, mental, emosi dan sosial.

Atau ada anak yang mengalami kelainan dari gabungan hal-hal tersebut. Untuk itu, penting sekali orang tua memahami bagaimana perkembangan anaknya.

"Masalahnya, masih banyak orang tua atau keluarganya yang telat melakukan deteksi sehingga tumbuh kembang anak tidak optimal," ujar Siti Nuraini Purnamawati, akademisi Universitas Negeri Jakarta ( UNJ) seperti dikutip dari laman Ruang Guru PAUD, Minggu (20/9/2020).

Dijelaskan, ada beberapa jenis anak berkebutuhan khusus ( ABK) dengan cara penanganannya yang juga berbeda. Untuk itu, penting bagi Lembaga PAUD yang dalam hal ini guru-gurunya untuk mengetahui jenis ABK dan menentukan cara menanganinya.

Baca juga: Orangtua, Kebutuhan Dasar Anak Harus Dipenuhi Meski Pandemi

Jenis-jenis ABK

Gangguan Autis

Ciri utama yaitu gangguan pada perkembangan kemampuan interaksi sosial, komunikasi, dan munculnya perilaku berulang yang tak bertujuan.

Perlu diketahui, gangguan autis bisa saja muncul mengikuti retardasi mental tapi bisa juga tidak. Artinya, gangguan autis bisa tetap tumbuh kembang layaknya anak normal apabila dikelola secara baik.

Gangguan Perilaku/Tingkah Laku

Gangguan perilaku merupakan gangguan yang meliputi agresi terhadap orang lain dan binatang, menghancurkan barang kepemilikan, berbohong atau mencuri, dan pelanggaran aturan yang serius.

Gangguan perilaku disebabkan banyak hal dan umumnya tidak terdeteksi saat bayi. Namun pada saat anak mulai beranjak dewasa, perilakunya bisa mulai terlihat, misalnya senang menyiksa binatang atau memukul anak lain. Gangguan perilaku yang tidak ditangani dapat berujung kepada aksi kriminal di usia dewasa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X