Hadapi Bonus Demografi, Pendidikan Vokasi Harus Seperti Ini

Kompas.com - 03/11/2020, 13:42 WIB
Bonus demografi yang konon puncaknya akan kita nikmati pada tahun 2030 tidak akan berarti apa-apa jika tidak didominasi manusia Indonesia dengan kualifikasi khalifah. M LATIEF/KOMPAS.comBonus demografi yang konon puncaknya akan kita nikmati pada tahun 2030 tidak akan berarti apa-apa jika tidak didominasi manusia Indonesia dengan kualifikasi khalifah.
|

KOMPAS.com - Bangsa Indonesia diprediksi bakal menghadapi bonus demografi pada 20-30 tahun akan datang. Hal itu dapat dilihat karena jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif.

Jumlah usia produktif itu mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Untuk itu, bonus demografi ini bisa menjadi tantangan sekaligus kesempatan besar.

Untuk itulah saat ini perlu disediakan banyak lapangan kerja. Tetapi, lebih penting dari itu pemerintah harus menyiapkan sumber daya manusia yang andal dan siap berwirausaha.

Hal inilah yang kemudian menginisiasi program revitalisasi pendidikan vokasi untuk menciptakan SDM yang dinamis, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berdaya saing global.

Baca juga: Mahasiswa Vokasi Unair Gali Info Seputar Bahasa Mandarin dan Jepang

Pendidikan vokasi harus berkembang

Melansir laman Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) Kemendikbud, Minggu (1/11/2020), salah satu lulusan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), Alfian Jalil berbagi cerita.

Alfian sendiri kini telah sukses meniti karier sebagai general manager di PT Idemitsu Kosan. Menurut dia, pemerintah telah mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusianya.

Hal ini terkait dengan sekolah kejuruan sebagai salah satu solusi bonus demografi bagi Indonesia.

Meski demikian, tenaga kerja yang berlimpah ini harus disesuaikan dengan revolusi dunia industri 4.0 yang menyebabkan banyak peran tenaga manusia digantikan dengan mesin.

"Karenanya, sekolah vokasi itu harus berpikir dengan konsep yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya," ujarnya.

Dia berpendapat, pendidikan vokasi perlu mengembangkan kurikulum pendidikan yang tidak hanya menyiapkan tenaga siap kerja, namun juga mampu berpikir kreatif dengan melihat peluang bisnis yang ada.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X