Kompas.com - 05/11/2020, 12:36 WIB
Dirjen Dikti Kemendikbud Prof. Nizam saat menjadi narasumber pada talkshow gelaran ForTi. Tangkapan layar Zoom ForTiDirjen Dikti Kemendikbud Prof. Nizam saat menjadi narasumber pada talkshow gelaran ForTi.
|

KOMPAS.com - Banyak inovasi dihasilkan selama pandemi Covid-19, tak terkecuali pendidikan tinggi yang juga berperan dalam membuat inovasi.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud, Prof Nizam, ada lebih dari 1.000 inovasi yang telah diciptakan oleh mahasiswa.

Inovasi tersebut dituangkan dalam bentuk karya teknologi yang lebih canggih, seperti:

1. Augmented reality (AR)

2. Artificial intelligence (AI)

3. Praktikum secara virtual

Nizam menjelaskan, inovasi tersebut bukan hanya menjadi prototipe, melainkan juga telah diproduksi secara massal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kemendikbud: Ini Manfaat Anak Aktif Bergerak dan Cara Melatihnya

Bidang ekonomi

Terkait bidang ekonomi, Kemendikbud telah merealokasikan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk membantu para mahasiswa yang orangtuanya terdampak pandemi, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Terdapat sebanyak lebih kurang 400.000 mahasiswa dan masing-masing mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 2,4 juta," ujar Nizam, seperti dikutip laman Ditjen Dikti, Selasa (3/11/2020).

Selain itu, Kemendikbud bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk membantu penyediaan akses internet secara gratis bagi 8 juta mahasiswa dan dosen, serta lebih kurang 60 juta siswa.

Bidang kesehatan

Di bidang kesehatan, Kemendikbud juga merealokasikan anggaran yang ada untuk membantu Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran.

Semua Fakultas Kedokteran dari Rumah Sakit Pendidikan itu dimobilisasikan untuk menjadi pusat tes (test center) yang dimanfaatkan untuk menangani tes Covid-19 dan dalam waktu yang singkat dapat melakukan tes untuk 8.000 orang.

"Selain itu, kami memobilisasikan relawan mahasiswa kesehatan sebanyak kurang lebih 15.000 mahasiswa yang dibentuk menjadi Relawan Covid-19 Nasional (Recon)," imbuhnya.

Para relawan mahasiswa ini membantu dalam hal mitigasi, terutama dalam KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi).

Terkait pembelajaran

Nizam mengatakan, dari 4.700 kampus yang ada, hanya sekitar 200 kampus yang memiliki learning management system (LSM).

Namun, lebih dari 3.000 modul telah disiapkan pada laman Sistem Pembelajaran Daring (Spada). Maka dari itu, kampus yang belum siap dengan modul pembelajaran daring dapat mengakses laman Spada sebagai platform untuk berbagi modul pembelajaran dan LSM.

Selama pembelajaran daring, secara umum mahasiswa dapat menerima materi kuliah dengan baik. Untuk kendala pembelajaran daring, yakni kualitas koneksi, tidak memiliki korelasi yang tinggi terhadap pencapaian pembelajaran mahasiswa.

Hal tersebut dikarenakan dosen tetap membagikan semua modul ajarnya kepada mahasiswa, sehingga pencapaian pembelajarannya tetap baik.

Baca juga: Menristek: Bonus Demografi, Startup Berkembang demi Indonesia Maju

Jadi, di atas adalah beberapa peran pendidikan tinggi selama pandemi Covid-19 melanda bangsa Indonesia.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.