Kompas.com - 16/01/2021, 15:03 WIB
Suasana Hijrah (22), kuliah daring di tepi jalan, Dusun Tabbuakang, Desa Kahayya, Kecamatan Kindang,  Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. KOMPAS.com/NURWAHIDAHSuasana Hijrah (22), kuliah daring di tepi jalan, Dusun Tabbuakang, Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
|

KOMPAS.com - Pembelajaran daring sampai saat ini masih menjadi alternatif bagi siswa maupun mahasiswa. Khususnya bagi mahasiswa, kuliah daring juga menjadi hal biasa.

Namun, hampir satu tahun ini kuliah masih dilaksanakan secara daring. Tentu banyak membuat mahasiswa merasa bosan. Apalagi jika sedang terkendala sulitnya jaringan internet dan lain-lain.

Bahkan jika sudah terkendala psikologis maka harus diberi perhatian. Ketidaknyamanan psikologis yang dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan sense of control tersebut muncul akibat transisi dari pembelajaran face to face ke pembelajaran jarak jauh.

Untuk mendapatkan pemahaman yang sama akan materi perkuliahan, dibutuhkan beragam strategi berbeda yang perlu dipelajari, dilatih, dimonitor efektivitasnya, dan diubah strateginya ketika tidak efektif.

Baca juga: Pandemi, Universitas Muria Kudus Terus Kembangkan Metode Kuliah Daring

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip), Dian Ratna Sawitri, S.Psi., M.Si., Ph.D., coba memberikan tanggapan.

Menurutnya, beberapa aspek budaya perlu menjadi perhatian terkait bagaimana mengatasi kendala psikologis dalam pembelajaran jarak jauh.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berikut ini tips untuk mengatasi kendala psikologis mahasiswa yang ikut kuliah daring seperti dikutip dari laman Undip, Sabtu (15/1/2021):

Power distance index

Dalam budaya ini, kecenderungan teacher-centered lazim terjadi, dan student-centered learning merupakan tantangan tersendiri, meskipun sebelum pandemi telah dikembangkan.

Budaya high context vs low context communication tidak kalah menarik untuk dicermati. Pada pola high context communication, informasi tersampaikan dalam konteks situasi.

Artinya dibandingkan secara eksplisit, masyarakat cenderung lebih banyak menggunakan sesuatu yang implisit, misalnya melalui ekspresi wajah, gesture, dan tindakan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X