Kompas.com - 23/03/2021, 21:08 WIB
Amich Alhumami, Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 yang digelar Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Selasa, 23 Maret 2021. DOK. PERPUSNASAmich Alhumami, Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 yang digelar Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Selasa, 23 Maret 2021.

KOMPAS.com - Literasi tidak dapat dilepaskan dari dua agenda strategis: sumber daya manusia (SDM). dan kebudayaan. Ketersinggungan nyata antara literasi, pendidikan, dan kebudayaan inilah yang kemudian melahirkan masyarakat berpengetahuan (knowledge society).

“Dengan membangun pendidikan yang baik literasi dapat meningkat. Sebaliknya dengan literasi yang rendah justru bisa dipastikan akan menimbulkan konsekuensi lain yang lebih memakan biaya dan menyita waktu," ungkap Amich Alhumami, Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Kondisi ini diyakini akan meningkatkan produktivitas dan pendidikan adalah mula bagaimana mengubah arah kehidupan.

"Maka, penting membekali anak dengan keterampilan baca, khususnya di rentang usia 8-10 tahun,” tegas Amich dalam Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 yang digelar Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Selasa, 23 Maret 2021.

Tahun ini, Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 yang diadakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengangkat tema "Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural".

Baca juga: Tjahjo Kumolo Dorong ASN Jadi Motor Penggerak Penguatan Literasi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dampak rendahnya literasi

 

Lebih jauh Amich menjabarkan konsekuensi yang dirasakan ketika literasi rendah, antara lain:

  • biaya pendidikan lebih mahal,
  • tidak produktif ketika memasuki dunia kerja,
  • pendapatan rendah yang berimbas pada kesejahteraan,
  • ongkos kesehatan menjadi mahal, dan
  • angka kriminalitas meningkat.

Amich menerangkan, negara dengan proporsi penduduk yang bekerja sangat besar di berbagai lapangan dan jenis pekerjaan justru mensyaratkan kemampuan baca yang tinggi karena akan cenderung lebih produktif.

"Terlebih di era dimana teknologi berperan penting dalam perekonomian, nyaris dipastikan semua memerlukan kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi sehingga kausalitas antara produktivitas tinggi dan kemampuan membaca di tempat kerja merupakan hal yang lumrah," tegasnya.

Ia menambahkan, “sebaliknya di negara yang belum menjadikan keterampilan membaca sebagai ukuran kinerja di tempat kerja cenderung kurang produktif atau produktivitasnya rendah.” 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.